Minggu, 22 Januari 2017 - Pukul 17:02

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Dirikan PAUD Berawal Dari Keprihatinan
OLEH: Heri

Dirikan PAUD Berawal Dari Keprihatinan

Berawal dari keprihatinan banyaknya anak yang tidak bisa membaca, menulis dan menghitung (Calistung)  di sekitar tempat tinggalnya, menginspirasi Rani Yuliani untuk mendirikan…

>> more

healthy life

4 Nyamuk Sumber Penyakit di Indonesia

4 Nyamuk Sumber Penyakit di Indonesia

Nyamuk tercatat sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia dengan jumlah korban melayang hingga 2 juta jiwa per tahun.

>> more

salam dari cianjur

Gemilang Pilkada Untuk Rakyat, Bukan Ego Individu

Oleh: Anton Ramadhan - Kamis 10 Desember 2015 | 12:56 WIB

Gemilang Pilkada Untuk Rakyat, Bukan Ego Individu

Presiden Joko Widodo pun mengemukakan, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang diselenggarakan secara serentak di 264 daerah di seluruh tanah pada Rabu (9/12) ini, merupakan kegembiraan politik yang patut kita meriahkan bersama-sama.

 

Untuk itu Jokowi pun meminta agar pihak-pihak yang menang dalam Pilkada jangan jumawa. Sebaliknya, yang kalah juga jangan ngamuk.

 

”Pilkada hari ini adalah kegembiraan politik yang patut dimeriahkan bersama-sama. Yang menang jangan jumawa, yang kalah jangan ngamuk”, begitu tulis Presiden Jokowi di akun twitternya @jokowi, yang baru saja diunggah beberapa saat lalu.

 

Hakekatnya pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ini, memang bukan hanya persoalan menang dan kalah. Tetapi jauh lebih penting lagi ada­lah ba­gai­mana menyatukan kembali perbedaan yang sem­pat terjadi karena beda sikap politik, untuk bersama-sama men­dukung yang me­nang dan siap menerima kekalahan. 

 

Sudah lumrah dalam sebuah ‘kompetisi’ ada yang kalah dan me­­nang.  Kedua sisi tersebut berpotensi menghasilkan dua ke­l­ompok yang memiliki pola berpikir yang berbeda. 

 

Walau dalam kompetisi itu tujuannya untuk menang, tetapi bu­kan dalam ben­tuk konsep harus menang. Konsep me­nang kalah sama-sama ter­hormat yang selalu di­tan­da­ta­ngani peserta se­belum pe­lak­sanaan Pilkada, hendaknya bu­kan hanya di atas kertas. Tetapi juga harus dilaksanakan.

 

Kon­flik dalam Pilkada sangat ter­gantung dari perilaku dan tin­dak tanduk elite yang menjadi figur panutan di mata rak­yat pendukung­nya. Mereka harus mene­rap­kan etika ber­politik santun, satya wacana dan jujur dalam me­nyi­kapi komitmen bersama.

 

Termasuk sportif dan berjiwa besar dalam menyikapi hasil pe­nghitungan suara, diharapkan mampu menjadi magnet bagi masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam pelaksanaan Pilkada berikutnya.

 

Setiap pasangan calon kepala daerah, saat me­nga­dakan deklarasi damai, selalu menyatakan siap ka­lah dan me­nang. Mereka selanjutnya bergandengan ta­ngan, berpelukan dan menegaskan siap menerima kekalahan dan kemenangan dengan la­pang dada. Siapa pun yang ter­pilih dan dipilih rakyat harus di­hargai.

 

Dengan kata lain, walaupun tidak dipilih dalam kontestasi Pil­­kada, kebersamaan dan semangat perjuangan dalam mem­­bangun daerah harus terus ditunjukkan. Jangan ada yang me­nunjukkan kekecewaan dalam bentuk-bentuk anar­kisme, des­truktif, merusak ketertiban umum, apa lagi meng­han­curkan fasi­litas publik.

 

Pilkada secara esensi berupaya me­wujudkan suara rakyat. Tentunya, siapa pun yang terpilih sebagai kepala daerah, ha­rus mengemban amanah rakyat dengan penuh tanggung jawab. Apabila ada pasangan calon yang tidak menang, harus diartikan rakyat sesungguhnya be­lum memberi kesempatan kepadanya.

 

Dalam demokrasi, ada semangat untuk menghargai serta men­jun­jung tinggi kepentingan rakyat seutuhnya.

 

Perbedaan antar kelompok masyarakat tentu tidak bisa di­hin­dari. Meski demikian, jangan sampai karena pemilu masya­­ra­kat justru terpecah belah. Masyarakat harus tetap men­jaga ke­ru­kunan serta situasi keamanan yang saat ini sudah kondusif. Jangan hanya karena berbeda pilihan saat pil­kada, terjadi konflik ber­kepanjangan di tengah masyarakat.

 

Kini Pilkada sudah usai, tugas selanjutnya adalah ikut menga­wal dan menjaga kondisi ya­ng sudah aman dan kondusif. Be­gitu juga mengawal hasil Pil­kada agar suara rakyat tidak di­­curangi.

 

Bagi yang menang diucapkan selamat dalam me­ngemban amanah rakyat, serta merangkul lawan-lawan po­litiknya untuk bersama-sama membangun daerah, dan sikap legowo diharapkan bagi calon yang gagal juga mendukung calon yang mendapat amanah dari rakyat.

 

Mari kita tunggu bersama-sama hasil penetapan pasangan calon pemimpin daerah oleh Komisi Pemilihan Umum pada 21-22 Desember, dengan tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan, serta nurani selalu berpijak pada landasan keimanan.

 

Komentar