Selasa, 30 Mei 2017 - Pukul 01:51

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

retro

Penerapan Aplikasi Paket C Online, Perlu Dukungan Perangkat IT

Oleh: Cr1 - Selasa 15 Nopember 2016 | 12:58 WIB

Penerapan Aplikasi Paket C Online, Perlu Dukungan Perangkat IT

Foto: NET/Ilustrasi

BERITACIANJUR.COM - Langkah Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Direktorat Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) meluncurkan aplikasi pembelajaran pendidikan kesetaraan paket C dalam jaringan (online), patut diapresiasi.


Hanya saja yang perlu diperhatikan secara serius, ketika program tersebut diterapkan di daerah harus diimbangi dengan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga perangkat elektronik pendukungnya.


“Sangat setuju, karena suatu kemajuan sangat bagus. Akan tetapi perlu diingat, ketika lembaga-lembaga yang akan melaksanakan program seperti itu jelas harus ditunjang dengan perangkat yang tersedia karena tidak semua bisa mengakses,” ujar Pelaksana Harian (Plh) Kapusbin Pendidikan Luar Sekolah Pemuda Olahraga Wilayah III, Lukas Rahman, kepada “BC”, Minggu (13/11/2016).


Dikatakannya, ada peringatan bagi pemerintah ketika menurunkan kebijakan harus diimbangi dengan perangkat yang akan dipergunakan oleh daerah atau ada kebijakan lain jika  pemerintah tidak bisa menyediakan perangkat seperti dipersilahkan mencari sendiri.


“Intinya bagi kami dilapangan, ketika ada kebijakan apapun dari pusat jelas harus diapresiasi.  Tetapi kita masih menunggu kebijakan dari pemerintah daerah, karena kami sebagai petugas lapangan di bawah punya atasan seperti kabid dari dinas dan harus tunggu dulu arahannya,” katanya.


Lukas menilai, setiap program pasti ada sisi positif dan negatifnya. Positifnya, bahwa sekarang program itu sudah layak dan relevan agar dunia pendidikan lebih modern lagi seperti belajar melalui IT yang berarti secara global sudah memanfaatkan teknologi yang modern.


Tetapi segi negatifnya, mungkinkah ada kendala-kendala yang terjadi karena perangkat tersebut tidak menjamin seutuhnya seperti penyimpangan-penyimpangan belajar dengan online apakah akan murni diterima oleh masyarakat yang awam dan ini merupakan suatu tantangan.


“Beda lagi jika masyarakat yang sudah mapan dan modern, sudah mempersiapkan diri dengan mengikuti les private (pribadi) dan workshop (pelatihan). Sementara, masyarakat di daerah kayaknya agak jauh, bagaimana mau bisa membayar les atau paket data meski sebagian sudah ada yang paham IT dan ini harus menjadi bahan pertimbangan,” tandasnya.


Menurutnya, aplikasi online tersebut bukan mejadi solusi untuk menarik minat masyarakat mengikuti pendidikan kesetaraan khususnya paket C. Karena kalau solusi, berarti ada permasalahan.


“Ini sebenarnya program yang di uji cobakan, setelah itu dilihat apakah lebih banyak sisi positif atau negatifnya,” katanya.


Dirinya kembali menegaskan, sangat antusias dengan program tersebut akan tetapi apakah daerah sudah memiliki perangkatnya. Hal ini akan berbeda jika, pemerintah yang menyiapkan perangkatnya.


Misalnya, ditentukan satuan pendidikan yang layak sebagai sentra untuk berkomunikasi dan di bentuk di setiap kecamatan. Sehingga, terdapat sebuah satuan pendidikan yang sudah mapan untuk memberikan aset perangkat IT tersebut.


“Kalau itu tidak ditunjang, kita juga meragukan. Bukan berarti tidak baik, namun harus diperbaiki,” ungkapnya. (bis)

Komentar