Sabtu, 21 Januari 2017 - Pukul 01:05

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Dirikan PAUD Berawal Dari Keprihatinan
OLEH: Heri

Dirikan PAUD Berawal Dari Keprihatinan

Berawal dari keprihatinan banyaknya anak yang tidak bisa membaca, menulis dan menghitung (Calistung)  di sekitar tempat tinggalnya, menginspirasi Rani Yuliani untuk mendirikan…

>> more

healthy life

4 Nyamuk Sumber Penyakit di Indonesia

4 Nyamuk Sumber Penyakit di Indonesia

Nyamuk tercatat sebagai salah satu hewan paling mematikan di dunia dengan jumlah korban melayang hingga 2 juta jiwa per tahun.

>> more

entertainment

Asal Muasal Alat Musik Tradisional Angklung

Oleh: Bisri Mustofa - Rabu 07 Desember 2016 | 09:00 WIB

Asal Muasal Alat Musik Tradisional Angklung

BC/Dok

BERITACIANJUR.COM - Banyak alat musik tradisional di negeri ini yang keberadaannya sudah diakui dunia. salah satu alat musik tradisional tersebut adalah Angklung.

 

Alat musik asal Jawa Barat ini memiliki seni pertunjukan cukup banyak yang tumbuh dan berkembang tersebar di berbagai pelosok. Jenis-jenis pertunjukan tersebut meliputi seni karawitan, seni tari, dan seni drama.

 

Tidak sedikit seni pertunjukan daerah tersebut yang berkembang pesat seiring dengan perkembangan masyarakat penduduknya sehingga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dan berbagai bangsa di Dunia. Salah satu seni pertunjukan tanah priangan yang sudah terkenal adalah pertunjukan Angklung.

 

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat Sunda. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. 

 

Angklung adalah waditra yang terbuat dari bambu dengan tabung suara sebagai resonator. Kita patut berbangga karena Angklung sudah terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010

 

Tidak mudah untuk mementukan sejak kapan seni pertunjukan angklung ada di daerah jawa barat, dari mana asalnya, dan siapa penciptanya, karena belum ada data yang akurat tentang hal ini. Namun jika dilihat dari sejarah perkembangan seni pertunjukan daerah Jawa Barat, ada kecendrungan angklung yang berkembang dewasa ini berasal dari Jawa barat, hasil dari kreativitas seniman daerah Jawa Barat di masa lampau

 

Angklung merupakan salah satu jenis seni pertunjukan yang telah lama hidup di daerah Jawa Barat. Selama keberadaannya, angklung telah mengalami berbagai perkembangan, baik hubungan dengan musikalitas, fungsi, teknis pertunjukan maupun daerah penyebarannya. Perkembangan musikalitas artinya perubahan nilai-nilai musik karena adanya penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat pemakaiannya. 

 

Perkambangan fungsi maksudnya perubahan-perubahan yang ada hubungannya dengan penggunaan angklung di masyarakat. Sebagai contoh dapat kita lihat pada awal pertumbuhannya, aangklung hanya dipertunjukan sebagai sarana upacara penghormatan terhadap Dewi Sri, tetapi pada perkembangan selanjutnya juga sebagi seni tontonan atau hiburan. Yang dimaksud dengan perkembangan daerah adalah perluasan daerah penyebarannya, sekarang ini angklung tidak hanya dapat dijumpai di Jawa Barat saja, tapi di mana saja sudah ada bahkan sampai ke luar negri

 

Perkembangan angkung yang tampak menonjol berawal dari adanya upaya Daeng Sutigna membuat angklung diatonis sekitar tahun 1938, beliaua dalah seorang guru di daerah Kuningan dan Cirebon. Beliau beranggapan bahwa angklung yang awalnya hanya dipakai untuk kegiatan pramuka dan kesenian lainnya dapat dipergunakan untuk menyajikan lagu-lagu diatonis yang cenderung banyak digemari oleh kalangan masa itu. Anggapan tersebut menjadi kenyataan, tahun 1946 Daeng Sutifna berhasil mempertunjukan hasil karyanya melalui pertunjukan di Lingkar Jati, Kuningan.

 

Selama berkiprah di bidang Angklung, Daeng Sutigna mempunyai enam orang murid yaitu Sanui, Hidayat Winitasasmita, Opan Sopandi Agam Ngadimin, Yahya Erawan, Dan Ujo Ngalagena. Orang-orang tersebut penerus setelah Daeng Sutigna yang melestarikan kebudayaan seni Angklung sampai sekarang ini. Bahkan Ujo Ngalagena spada tahun 1958 mendirikan Saung Angklung di daerah Padasuka Bandung. 

 

Meski pada awalnya Saung Angklung hanya sekedar tempat pembuatan angklung, namun setelah dikembangkan lagi Saung Angklung menjadi objek wisata budaya. Sekarang Saung Angklung semakin berkembang, tempat tersebut menjadi sebuah tempat pertunjukan-pertunjukan angklung dan tempat dimana jika kalian ingin belajar memainkan angklung sehingga banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara

 

Dengan berkembang penyebarannya angklung pun sekarang banyak jenisjenisnya, sesuai dengan tempat penyebarannya, sebagai contoh adalah Angklung Kanekes dari aduy , angklung reyog dari Ponorogo, angklung Banyuwangi, angklung Bali dan masih banyak lagi jenis lainnya. Persamaan jenis angklung tersebut dari bahan bakunya yaitu bambu, yang membedakannya adalah nada yang menjadi kekhasan daerah berasal masing-masing. Namun diluar itu semua kita patut bangga karena Angklung adalah Alat Musik tradisional milik Indonesia yang sudah diakui oleh dunia. (bbs/bis)

Komentar