Selasa, 21 Pebruari 2017 - Pukul 12:10

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Tumbuhkan Kembali Minat Generasi Muda Akan Budaya Lokal
OLEH: Heri Febriyanto

Tumbuhkan Kembali Minat Generasi Muda Akan Budaya Lokal

Mulai lunturnya kecintaan dan minat generasi muda terhadap budaya tradisional lokal, menjadi perhatian serius bagi Kepala Desa Ciherang, Kecamatan Pacet, Acep Haryadi. Sebagai…

>> more

healthy life

Mahalnya Biaya Pengobatan Kanker di Indonesia

Mahalnya Biaya Pengobatan Kanker di Indonesia

Kanker merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung dan stroke. Biaya pengobatan kanker yang dirasakan sangat mahal dituding sebagai salah satu faktor yang turut memperburuk…

>> more

ekonomi bisnis

Rastra Seperti Ketan, Warga Enggan Konsumsi

Oleh: Heri - Senin 09 Januari 2017 | 16:00 WIB

Rastra Seperti Ketan, Warga Enggan Konsumsi

Net/Ilustrasi

BERITACIANJUR.COM - Tingginya kebutuhan masyarakat tidak mampu di Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet untuk mengkonsumsi beras keluarga sejahtera (Rastra),  ternyata tidak berbanding lurus dengan kualitasnya.  Bahkan warga yang menerima jatah beras dari pemerintah itu,  enggan mengkonsumsinya karena kualitasnya seperti ketan.

 

Informasi yang diterima dari Pengelola Rastra Desa Sukanagalih, Cucu Hartini menyebutkan,  jika sepekan terakhir ini para Ketua RT menyampaikan keluhan warga yang menerima rastra karena kualitas berasnya yang seperti ketan.

 

"Pasokan rastra untuk 2 bulan terakhir ini dikeluhkan oleh masyarakat melalui Ketua RT,  karena kualitasnya yang seperti ketan," ujar Cucu, kepada "BC" saat dihubungi, Minggu (8/1/2017) kemarin.

 

Dijelaskannya,  kebutuhan rastra setiap bulan di Desa Sukanagalih memang sangat tinggi, jumlahnya mencapai 1.304 KK atau Rumah Tangga Sasaran (RTS).  Hanya saja akibat kualitas beras yang diterima kurang bagus,  dikeluhkan masyarakat.

 

"Sayangnya sudah sepekan baru ada laporan ke pihak desa, tapi sudah dilaporkan ke kecamatan," jelasnya.

 

Meski mengeluh,  sambung Cucu,  warga yang menerima bantuan rastra tersebut tetap mengkonsumsinya, sedangkan ada sebagian yang memilih tidak memakannya. Namun sampai saat ini,  tidak ada warga yang mengembalikan berasa itu ke desa.

 

"Kebutuhan rastra di setiap RT sebetulnya tidak cukup, pengakuan dari mereka karena jumlah warga miskin di wilayah bertambah," katanya.

 

Cucu berharap,  mudah-mudahan kedepannya jika subsidi rastra tidak dihilangkan oleh pemerintah, mohon agar beras yang dikirimkan benar-benat bisa dikonsumsi oleh masyarakat yang membutuhkan.

Komentar