Jumat, 26 Mei 2017 - Pukul 01:10

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'
Kang Anton

Lagi, Bicara Soal 'Komitmen'

Rasanya ini momen yang pas untuk berpikir kembali soal 'Komitmen', dengan (jujur) meminjam paparan dari para pemerhati Sumber Daya Manusia (SDM) dan dinamikanya dalam perusahaan. Di…

>> more

inspirasi

Berprestasi Dalam Keterbatasan
OLEH: Apip Samlawi

Berprestasi Dalam Keterbatasan

Ketiadaan, kekurangan atau keprihatinan bukanlah suatu alasan untuk menyerah, berhenti dalam menggapai suatu impian. Tetapi sebaliknya, justru hal itu harus dijadikan dasar utama untuk…

>> more

healthy life

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Waspada, 6 Penyakit Ini Sering Muncul Saat Banjir

Musim hujan memang kerap mendatangkan banjir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penyakit akibat banjir.

>> more

retro

Curah Hujan Tinggi, Petani Tetap Tanam Padi

Oleh: cr8 - Minggu 26 Pebruari 2017 | 22:49 WIB

Curah Hujan Tinggi, Petani Tetap Tanam Padi

Foto: BC/cr8

BERITACIANJUR.COM - Tingginya intensitas hujan di Kabupaten Cianjur dan sekitarnya akhir-akhir ini bukan menjadi kendala bagi Yanto (32), untuk memulai menanam kembali padi di sawahnya yang berada di pinggir Jalan Aria Wiratanu Datar (Arwinda).


Ia beralasan, karena sawahnya berada di dataran tinggi sehingga kemungkinan terjadinya banjir relatif kecil.


“Di sini tinggi daerahnya, meskipun hujan lebat sawah di sini tidak pernah banjir kang, sehingga tidak ada masalah meskipun curah hujan tinggi,” katanya.


Dia pun mengatakan, saat ini baru dalam tahap dibajak dulu dengan menggunakan mesin traktor. Menurutnya, lebih cepat pengerjaannya jika menggunakan mesin dibandingkan hanya dengan menggunakan cangkul saja.


“Dibajak dulu dan dibiarkan seminggu sambil menunggu benih, sekitar seminggu hingga 10 hari baru ditanam padi. Saya bajak pakai traktor, karena jika dihitung-hitung ongkos cangkul dengan ongkos sewa traktor bajak sawah sama saja biayanya. Tetapi, kalau memakai mesin sehari juga beres, gak perlu hingga dua atau tiga hari,” ujarnya.


Sementara, Marwan Sutisna (38) petani padi lainnya di Jalan Raya Ciranjang, Sadang, Kecamatan Karangtengah, mengaku mulai bertanam juga karena sepengetahuannya dalam Bulan Maret ke depan curah hujan berkurang.


“Ini disiapkan saja dulu sawahnya, karena informasi yang saya dapat di bulan depan (Maret, red) curah hujan diprediksi akan berkurang. Oleh karena itu, saya mulai tanam padi kembali, selain itu sawah saya juga belum pernah terjadi banjir yang merusak padi, jadi bukan masalah curah hujan,” bebernya.


Ia menerangkan, kalau pengairan sawahnya dari dahulu hingga sekarang tidak pernah kesusahan air meskipun di musim kemarau sekalipun.


“Seingat saya, sawah-sawah di sini tidak pernah susah air meski kemarau. Kata sepuh (orang tua), air di sini berasal dari mata air hingga tak pernah kering, saya sendiri juga tidak tahu di mana mata airnya tetapi itu kenyataanya,” jelasnya. (rr)

Komentar