BERITACIANJUR.COM – Tepat pada 21 November 2022 lalu, sebuah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, yang menyebabkan ratusan orang meninggal dunia.
Peristiwa memilukan tersebut menjadi salah satu bencana alam terparah yang pernah tercatat di Kota Santri, dan meninggalkan luka yang membekas hingga kini.
Diketahui, gempa m 5,6 itu akibat aktivitas Sesar Cugenang. Faktanya, tak hanya Sesar Cugenang, namun Kabupaten Cianjur dikelilingi enam sesar aktif lainnya, antara lain Sesar Nyalindung-Cibeber, Sesar Cimandiri, Sesar Rajamandala, Sesar Cirata, Sesar Padalarang, dan Sesar Lembang.
Lalu, langkah apa saja yang sudah dan akan dilakukan Pemkab Cianjur menanggapi hal tersebut?
Bupati Cianjur, Mohamad Wahyu Ferdian, menegaskan berbagai langkah antisipasi perlu dilakukan mengantisipasi banyaknya sesar yang mengelilingi Cianjur.
“Langkah untuk mengantisipasinya dimulai dengan pemetaan. Kita petakan mana saja jalur atau wilayah yang berpotensi terdampak dari setiap sesar yang aktif,“ Jumat (21/11/2025).
Ia menilai, berbagai langkah antisipasi sangat perlu dilakukan agar dampak gempa yang terjadi pada tiga tahun lalu tidak terulang kembali.
“Jadi kesiapsiagaan perlu dilakukan agar kalaupun terjadi gempa dampaknya tidak akan seperti dulu,“ jelasnya.
Untuk bisa memaksimalkan upaya atau mitigasi yang dilakukan, Wahyu juga menilai pentingnya memberikan edukasi terutama kepada warga yang berada di kawasan sesar aktif, untuk mencari tempat tinggal yang lebih aman atau memahami langkah evakuasi jika terjadi gempa.
“Langkah relokasi perlu dilakukan, namun jika tidak direlokasi berarti struktur bangunannya harus diperkuat dan warga harus paham apa yang dilakukan jika terjadi gempa,“ pungkasnya.(gil)







