BERITACIANJUR.COM – Nestapa petani di lumbung padi Cianjur. Setelah melewati serangan penyakit pada tanaman padi, kesulitan petani berlanjut dengan munculnya ribuan burung pipit yang menyerang ratusan hektar sawah di Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Cianjur. Akibatnya, banyak petani yang terancam gagal panen.
Kondisi memprihatinkan tersebut dibenarkan Kepala Desa Nanggalamekar, Hilman. Menurutnya, serangan burung pipit terjadi selama dua pekan.
“Di wilayah sini ada sekitar empat kelompok tani yang terserang burung pipit. Jumlah satu kelompoknya itu sekitar 30 hingga 35 hektar. Jadi total yang terserang itu 120 hektar. Mungkin jumlahnya bisa lebih karena ada yang menjelang masa panen,“ ujarnya, Senin (19/1/2026).
Petani Kampung Pasirangin Desa Nanggalamekar, Teten Sopiandi (53), menyebutkan sebelum adanya serangan ribuan burung pipit, para petani dihadapkan dengan munculnya penyakit yang menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil.
“Penyakit menyerang saat usia tanaman 45 hari. Setelah berhasil melewati penyakit dan saat usia penyemaian kami berhasil lolos dari kegagalan tanaman padi usai diberi obat, ribuan burung pipit menyerang menjelang panen,“ ungkapnya.
Teten menyebutkan, serangan burung padi menyebabkan sebagian besar petani mengalami gagal panen. Dari satu hektar sawah yang biasanya bisa menghasilkan 7-8 ton gabah, sambung dia, kini hanya tersisa satu kuintal atau 100 kilogram. “Jadi akibat serangan burung ini, sebagian besar gagal panen,“ sebutnya.
Fenomena serangan ribuan burung pipit itu, lanjut Teten, merupakan kejadian pertama kalinya terjadi. Ia menduga burung-burung bermigrasi dari wilayah lain.
“Seingat saya, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah ada burung pipit sebanyak ini hingga membuat petani gagal paneh,
Saat adanya serangan burung, Teten mengaku sebenarnya para petani sudah berupaya mencegahnya dengan memasang jaring atau jebakan. Namun semua upaya tidak maksimal apalagi memerlukan biaya cukup besar.
“Pasang jaring untuk 1 hektar sawah saja sudah habis Rp1,5 juta. Itu pun burungnya masih bisa masuk ke sawah. Semoga pemerintah memberikan solusi soal gagal panen ini. Tidak hanya buat sekarang, tapi juga solusi untuk musim tanam atau musim panen berikutnya,“ jelasnya.
Ia menyebutkan, biasanya kawanan burung pipit menyerang tanaman padi menjelang sore. “Iya menyerangnya sore hari. Jadi saat pagi dan siang itu tidak ada burung pipit. Tiap sore, hampir semua sawah diserang burung pipit dan padinya dimakan,“ bebernya.
Terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur, Dandan, mengaku pihaknya akan berupaya melakukan berbagai langkah penanganan untuk bisa mencegah dampak dari serangan burung tersebut.
“Dari petani sudah berupaya mencegahnya dengan memasang jaring dan alat pengusir burung tradisional. Lalu langkah berikutnya dari kami akan menyemprotkan pestisida yang membuat burung tidak mendekat. Untuk selanjutnya, kami juga akan melaksanakan program tanam serempak,“ pungkasnya.(gil)





