Perjuangan Bayu demi Sekolah Daring, Anak Sekecil Itu Berkelahi dengan Waktu

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal”

BERITACIANJUR.COM – Penggalan lagu bertajuk “Sore Tugu Pancoran” yang dipopulerkan Iwan Fals di atas seolah menggambarkan kisah Bayu Ardani (11), anak yatim piatu asal Kecamatan Haurwangi.

Di usianya yang masih muda, Bayu harus berjuang menjajakkan dagangannya keliling kampung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Bayu merupakan anak yatim piatu yang sudah lama ditinggalkan kedua orang tuanya. Ia pun kini hidup bersama kakak tertuanya di Kampung Cimalang RT 01/RW 06, Desa Cipeuyeum, Kecamatan Haurwangi, Cianjur.

Bayu yang masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar (SD) itu, ternyata sudah sangat lama ingin memiliki HP sendiri, agar bisa menunjang proses belajar di sekolah yang kini mulai menerapkan pembelajaran secara daring.

Dengan memikul keranjang di pundaknya, Bayu kerap menjajakkan dagangannya dengan menelusuri lorong jalan gang hingga pematang sawah yang jaraknya sangat jauh.

“Sejak ditinggal (meninggal) oleh kedua orang tua setahun lalu, saya harus terus berjuang untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Biar bisa punya HP untuk belajar daring, karena selama ini biasanya rental sama tetangga,” ujar Bayu kepada wartawan, Jumat (11/2/2022).

Bayu sendiri biasa mengambil barang dagangannya dari tetangga dekatnya sebagai modal berjualan. Barangnya beragam, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga makanan ringan.

Meskipun upah yang didapat tak seberapa, namun Bayu tetap semangat dan tak mengeluh pada siapapun.

“Penghasilan jualan keliling kampung itu berkisar Rp10-20 ribu per hari. Sebagian saya tabung dan sisanya untuk jajan atau rental HP,” ungkapnya.

Meskipun Bayu anak laki-laki, tapi ia tak segan membantu membersihkan atau beres-beres di rumah tetangganya.

Baca Juga  Fakta Baru, Ternyata Anggaran Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita Juga 'Macet'

“Setelah selesai berjualan, biasanya suka ikut bantu cuci piring dan beres-beres rumah tetangga, biar bisa dapat tambahan uang saku,” ungkapnya.

Sementara itu, kakak pertama Bayu, Tina (25) mengungkapkan, Bayu merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, adiknya itu sudah mulai ikut membantu meringankan perekonomian keluarga.

Meskipun Tina sudah bersuami, tapi pekerjaan suaminya hanya sekadar buruh harian yang penghasilannya tidak menentu dan hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari.

“Bayu memang sangat rajin dan punya semangat tinggi. Sekarang dia sangat ingin punya HP sendiri agar bisa belajar daring. Makanya hasil dari jualannya dia tabung,” pungkasnya.(rus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *