BERITACIANJUR.COM – Siapa yang belum pernah merasakan Lontong Kuah Pusaka Cianjur? Kalau belum, tempat ini wajib masuk daftar kunjungan kuliner beserta keluarga tercinta.
Pasalnya, Lontong Kuah Pusaka memiliki cita rasa unik yang sudah ada sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 1950 lalu dan masih eksis hingga saat ini.
Yups, berbeda dengan lontong kuah dari daerah lain dengan banyak toping, seperti lontong kari, lontong sayur, ataupun yang lainnya, Lontong Kuah khas Cianjur ini sangat sederhana.
Sebab, lontong disajikan tanpa banyak aneka topping dan hanya terdiri dari potongan lontong, tahu rebus, serta kerupuk yang disiram dengan kuah santan.
Walupun secara penampilan terlihat biasa saja, tetapi cita rasa dari Lontong Kuah Cianjur ini begitu luar biasa. Rasa gurih dari santan dan 12 bumbu rahasia lainnya larut di dalam mulut dan menciptakan sensasi rasa enak yang tak terlupakan.
Lontong dan tahu yang lembut pun begitu nikmat saat bercampur dengan kuah yang seluruh komposisi bumbunya diolah secara tradisional.
“Cianjur memang punya banyak makanan tradisional yang masih bertahap. Salah satunya lontong kuah ini. Kalau dari penampilan sederhana kang, hanya lontong, tahu rebus, dan kerupuk. Kemudian disiram kuah santan yang dicampur dengan 12 bumbu lainnya. Tapi kalau dari rasa tentunya sangat lezat,” ujar Nida Ningsih, Pemilik Lontong Kuah Pusaka, Selasa (4/6/2024).
Ia menceritakan bahwa Lontong Kuah Cianjur sudah ada sejak 1950. Kakeknya adalah orang yang pertama kali menciptakan resep dan mengenalkan lontong khas Kota Santri tersebut.
“Awal yang bikin resep dan jualan itu kakek saya. Kemudian diturunkan resepnya ke anak-anak hingga cucunya. Ada juga sodara yang dikasih tahu resepnya. Sekarang lumayan banyak yang jualan, tapi yang pertama itu Lontong Pusaka. Saya generasi ketiga yang meneruskan usaha ini,” paparnya.
Ia menegaskan, usaha warisan keluarganya itu bertahan selama 74 tahun lantaran cita rasa yang selalu dijaga dengan baik.
Tentunya dengan tidak mengubah komposisi dan takaran bahan baku dalam membuat kuah. Selain itu, bumbu kuahnya pun masih diolah secara tradisional.
“Sudah tiga generasi tempat jualan ini. Sejak harga Rp350 sampai sekarang harganya Rp17 ribu per porsi. Bisa bertahan lama karena rasa kita jaga. Meskipun harga bahan baku naik, tidak dikurangi sedikitpun takarannya,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan, banyak pelanggan tetap yang berasal dari luar kota, mulai dari Bekasi, Depok, Jakarta, hingga Tangerang.
“Banyaknya langganan dari luar kota. Biasanya tamu yang dibawa oleh warga Cianjur, karena cocok dengan rasanya jadi langganan. Bahkan turun-temurun, jadi sampai anak dan cucunya juga langganan di sini,” terangnya.
Menurutnya, makanan tradisional mulai tergerus oleh makanan-makanan cepat saji, di mana kawula muda lebih menggemari makanan kekinian. Namun, ia yakin jika makanan tradisional akan tetap bertahan.
“Memang sudah mulai tergerus dengan makanan kekinian. Tapi tetap tidak akan punah. Karena selalu ada penggemarnya. Apalagi dari cita rasa kan bisa lebih unggul. Namun, tentunya perlu dorongan dari berbagai pihak agar usaha kuliner ini tidak punah nantinya,” tutupnya.(gap)







