BERITACIANJUR.COM – Setelah mendampingi kepulangan Tenaga Kerja Wanita asal Ciranjang, Ai Juariah (48), yang sempat viral meminta pertolongan ingin pulang ke Tanah Air dalam kondisi bersimbah darah, kini Polres Cianjur gencar memburu sponsor yang memberangkatkan Ai secara ilegal.
Tak hanya itu, polisi juga tengah menelusuri sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang bekerja sama dengan sponsor yang memberangkatkan Ai sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Libya lewat jalur nonprosedural.
Hal tersebut dibenarkan Kapolres Cianjur, AKBP Akhmad Alexander Yurikho. Menurutnya, petugas masih menelusuri keberadaan sponsor atau calo berinisial D yang saat ini kabur. Pihaknya berupaya untuk segera menangkapnya.
“Saat kasus Ai Juariah mencuat, pria berinisial D ini kabur dan meninggalkan rumahnya. Jadi di rumahnya tidak ada satupun keluarganya. Satreskrim terus bekerja untuk mencari keberadaan D. Doakan segera bisa ditemukan dan diamankan,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Tak hanya pria berinisial D, sambung dia, polisi juga tengah memburu sindikat besar pemberangkatan PMI atau TKW ilegal di Cianjur.
Terkait sindikat, Alexander menyebutkan, hal itu diketahui setelah meminta keterangan dari Ai Juariah yang sudah berhasil dipulangkan Cianjur pada Senin (13/7/2026).
“Menurut keterangan AI, sponsor tersebut tidak bekerja sendiri tapi terhubung dengan sebuah jaringan TPPO berkedok pemberangkatan PMI ke Timur Tengah. Jadi, fokus utama kami menangkap D, tapi kami juga akan ungkap sindikat besarnya, siapa saja yang terlibat akan kami identifikasi dan tangkap semuanya,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Cianjur, Ai Juariah (48) yang sempat viral meminta pertolongan ingin pulang ke Tanah Air dalam kondisi bersimbah darah di Libya, akhirnya tiba di Cianjur pada Minggu (12/7/2026) malam.
Saat ditemui di Pendopo Cianjur, Senin (13/7/2026), Pekerja Migran Indonesia asal Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang tersebut mengaku berangkat ke Libya pada 2025 melalui jalur nonprosedural karena ingin melunasi utang biaya pernikahan anak pertamanya.
AI berangkat setelah mendapat tawaran kerja dari seorang sponsor yang menjanjikan uang bekal Rp7 juta. Setelah dipotong biaya pengurusan dokumen, Ai menerima Rp6,5 juta sebelum diberangkatkan melalui Singapura dan Turki menuju Libya.
Di negara tersebut, Ai menandatangani kontrak kerja selama 2 tahun 4 bulan. Namun, ia mengaku harus berpindah majikan hingga sembilan kali karena beban kerja yang berat dan perlakuan yang tidak manusiawi.
“Kalau tidur paling satu sampai dua jam. Kadang dari subuh sudah kerja sampai malam, bahkan sampai dini hari,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Ai mengatakan dirinya ditempatkan di sebuah perkampungan yang berjarak sekitar enam jam dari kantor agensi. Selama bekerja, ia harus membersihkan rumah besar dan hanya menerima upah sebesar 300 dolar AS per bulan yang dikirimkan kepada keluarganya di Indonesia.
Kejadian yang membuatnya viral terjadi saat kondisi tubuhnya melemah akibat sakit lambung dan kelelahan. Meski sakit, ia tetap diminta membersihkan rumah kosong milik kerabat majikannya.
Saat hendak turun dari lantai tiga sambil membawa selang air, Ai terpeleset pecahan kaca jendela hingga terjatuh dan mengalami luka di bagian wajah serta kepala.
Dalam kondisi bersimbah darah, Ai sempat merekam video dan mengirimkannya kepada suaminya di Indonesia sebelum akhirnya pingsan.
Video tersebut kemudian menyebar di media sosial dan mendapat perhatian publik. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri, KBRI, dan BP3MI Jawa Barat kemudian melakukan upaya penyelamatan hingga Ai berhasil dievakuasi dan dipulangkan ke Indonesia.
“Saya berharap tidak ada lagi yang berangkat lewat jalur non-prosedural karena risikonya sangat besar,” kata Ai.(zal)










