Debat Panas Mahasiswa Vs Wakil Rakyat dan Mosi Tidak Percaya kepada Pemkab Cianjur Warnai Hari Ketiga Aksi Protes MBG

BERITACIANJUR.COM – Hari ketiga aksi unjuk rasa terkait kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), diwarnai debat panas antara Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cianjur, Agus Rangga Tunggaraga, dengan salah seorang wakil rakyat di Gedung DPRD Cianjur, Senin (6/10/2025).

Insiden tersebut terjadi saat sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Cianjur, menyatakan sikap kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, yang lagi-lagi tidak hadir dalam aksi ketiganya terkait tragedi keracunan massal yang diduga akibat program MBG.

Perdebatan antara Rama dengan salah satu anggota DPRD Cianjur dari Fraksi Partai Gerindra, Hendry Juanda pun sempat terekam dalam video.

Adu mulut bermula ketika Rama yang berada di gerbang tengah berhadapan dengan Hendry yang didampingi oleh aparat kepolisian yang berdiri berjejer di balik gerbang Gedung DPRD Cianjur.

Lalu emosi para mahasiswa pun meledak saat Hendry menyatakan dirinya sebagai wakil rakyat sudah menunggu para massa dan bersiap untuk menanggapinya. Namun ternyata pernyataan tersebut ditolak keras oleh para mahasiswa yang diwakilkan oleh Rama dan situasi terlihat menjadi tegang.

“Sudah dua hari kami ke sini, kemarin kalian kemana? Ke depan tidak? Ada ngobrol sama kita tidak selama dua hari ke belakang?” teriak Rama.

Hendry pun melontarkan penyataan yang malah membuat situasi semakin memanas. Hendry mengatakan bahwa hasil mediasi para mahasiswa, massa tidak mau masuk jika tidak ada Bupati Cianjur.

Membalas pernyataan tersebut, para mahasiswa semakin berteriak mempertanyakan fungsi wakil rakyat yang seharusnya dapat menyampaikan aspirasi para masyarakat.

“Siapa yang menemui kita berhari-hari? Anda sebagai pejabat seharusnya menemui kita selama aksi ini. Sebagai pejabat kalian tidak punya etika, tidak menghadiri kita bahkan tidak mau menemui kita,” tegasnya.

Perdebatan semakin memanas hingga akhirnya seorang wakil rakyat memutuskan untuk mundur jauh dari hadapan para mahasiswa alias tidak melanjutkan perdebatan.

“Inilah kualitas pejabat negara hari ini. Kabur tidak mau menanggapi kita. Bahkan mereka tidak mau menemui selama tiga hari aksi ini berjalan,” kata Rama.

Di hari ketiga aksi, Rama menilai Pemkab Cianjur tengah mengalami sakit mental politik, karena dianggap tidak mampu merasakan penderitaan rakyat serta para korban keracunan.

Bahkan dengan melihat kondisi seperti ini, pihaknya dengan tegas menyatakan sikap mosi tidak percaya terhadap Pemkab Cianjur.

“Pemerintah yang absen di tengah penderitaan rakyat adalah pemerintah yang kehilangan legitimasi moral dan politik,” paparnya.

Tak berhenti di situ, Rama menegaskan, GMNI Cianjur menantang pemkab dan DPRD Cianjur untuk bersedia berdiskusi terbuka dengan masyarakat, membahas terkait persoalan MBG, serta mendengarkan kesaksian masyarakat yang menjadi korban keracunan.

“Pemerintah tidak boleh terus bersembunyi di balik rapat tertutup dan meja birokrasi. Tetap harus hadir di tengah rakyat untuk menyaksikan langsung dampak dari kebijakan yang mereka buat,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam GMNI Cianjur kembali menggeruduk Gedung DPRD Cianjur, mendesak agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur untuk mengevaluasi program MBG, Jumat (3/10/2025).

Ketua Dewan Pimpinan Cabang GMNI Cianjur, Agus Rama Tunggaraga, menilai pemerintah tidak serius dalam melakukan evaluasi program MBG yang sudah menyebabkan banyaknya siswa yang menjadi korban keracunan.

Sejak aksi pertama pada Kamis (2/10/2025) lalu yang dilakukan puluhan mahasiswa, sambung dia, tidak ada tanggapan sama sekali baik dari Pemkab Cianjur maupun DPRD Cianjur.

“Sampai saat ini tidak ada yang mau menemui kami hanya sekadar bertemu dan membahas permasalahan ini. Kalau pemda dan DPRD terus seperti ini, suara kita tidak didengar terus-terusan kita akan semakin kencang bersuara semakin konsisten bergerak,” ujar Rama kepada beritacianjur.com.

Menyikapi hal tersebut, menurutnya Pemkab Cianjur sampai saat ini sama sekali tidak serius dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG ini.(gil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *