BERITACIANJUR.COM – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur menargetkan luas tanam padi mencapai 63.440 hektare selama Oktober hingga Desember 2026. Namun, hingga 29 Oktober, realisasi tanam padi baru mencapai 7.781 hektare.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Cianjur, Dandan Hendayana, mengatakan periode Oktober hingga Desember 2026 diharapkan menjadi puncak musim tanam padi di Kabupaten Cianjur, seiring mulai turunnya hujan di sejumlah wilayah.
“Untuk Oktober, sampai dengan hari ini, luas tanam padi di seluruh kecamatan yang ada di Cianjur baru mencapai 7.781 hektare. Dengan tanaman padi yang ditanam Juli–September 2026 seluas 24.407 hektare, maka luas tanaman padi sampai dengan Oktober 2026 ini mencapai 32.188 hektare,” ujar Dandan saat dihubungi beritacianjur.com, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, secara akumulatif luas tanam tersebut baru mencapai sekitar 48 persen dari total lahan sawah di Cianjur yang telah ditanami padi. Karena itu, ia berharap hujan pada periode Oktober hingga Desember dapat mendorong peningkatan luas tanam.
“Mudah-mudahan dengan datangnya musim hujan di Oktober–Desember 2026 ini akan meningkatkan volume pertanaman padi sawah Cianjur,” katanya.
Dandan menjelaskan, target luas tanam padi pada Oktober 2026 ditetapkan sebesar 15.480 hektare. Sementara pada November ditargetkan mencapai 23.354 hektare dan Desember 24.606 hektare, sehingga total target selama tiga bulan tersebut mencapai 63.440 hektare.
Ia menyebut hujan sangat membantu petani, terutama dalam proses pengolahan lahan dan persemaian bibit padi di sawah.
“Sudah pasti sangat membantu, karena sangat diperlukan untuk pengolahan lahan dan persemaian bibit tanaman padi di lahan sawah,” jelasnya.
Meski demikian, menurut Dandan, belum seluruh kecamatan memulai penanaman padi pada Oktober ini. Dari seluruh kecamatan di Kabupaten Cianjur, sebanyak 26 kecamatan sudah mulai melakukan pertanaman, sedangkan enam lainnya belum, yakni Cipanas, Ciranjang, Haurwangi, Sindangbarang, Agrabinta, dan Leles.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi karakteristik lahan dan ketersediaan air. Kecamatan Cipanas didominasi lahan hortikultura sehingga petani biasanya menunggu kondisi musim hujan lebih stabil. Sementara itu, Leles, Sindangbarang, dan Agrabinta didominasi sawah tadah hujan yang bergantung pada curah hujan.
“Untuk Leles, Sindangbarang, dan Agrabinta, dipengaruhi oleh curah hujan yang turun belum merata di kecamatan tersebut. Untuk Ciranjang dan Haurwangi lebih disebabkan karena penyesuaian dengan jadwal buka tutup dari saluran air aliran irigasi Cihea,” ungkapnya.
Dandan menambahkan, sejumlah kecamatan telah mulai melakukan pengolahan lahan dan penanaman dengan luas yang bervariasi. Kecamatan Cidaun mencatat luas tanam 633 hektare, Sukaresmi 560 hektare, Bojongpicung 524 hektare, Karangtengah 471 hektare, Tanggeung 453 hektare, Sukaluyu 435 hektare, dan Cikalongkulon 437 hektare.
Sementara itu, sambung dia, luas tanam di Warungkondang mencapai 378 hektare, Cugenang 382 hektare, Pagelaran 284 hektare, Kadupandak 251 hektare, dan Kecamatan Cianjur 197 hektare. Adapun beberapa kecamatan lainnya masih mencatat luas tanam di bawah 100 hektare, seperti Mande 43 hektare, Sukanagara 19 hektare, dan Campaka 25 hektare.
Terkait ketersediaan air irigasi, Dandan mengatakan debit air masih dalam tahap penyesuaian setelah musim kemarau. Menurutnya, besaran kenaikan debit belum dapat dipastikan secara kuantitatif, tetapi curah hujan diyakini akan membantu meningkatkan ketersediaan air di saluran irigasi.
Untuk ketersediaan benih dan pupuk, ia menyampaikan bahwa pihaknya memastikan kebutuhan tersebut aman dan cukup untuk mendukung musim tanam Oktober hingga Desember 2026.
Dandan juga mengimbau petani, khususnya yang mengelola sawah tadah hujan, untuk mempersiapkan lahan sebelum hujan turun secara merata. Persiapan tersebut meliputi pembersihan lahan, galengan atau pematang sawah, serta penyingkiran gulma agar pengolahan lahan dapat berjalan optimal.
Selain itu, lanjut Dadan, petani diminta menyiapkan pembibitan dan persemaian dengan menggunakan benih unggul, serta menjadwalkan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar proses pengolahan lahan tidak mengalami keterlambatan.
Menurut Dandan, apabila target luas tanam Oktober hingga Desember 2026 tercapai, luas panen di Kabupaten Cianjur diharapkan meningkat. Kondisi tersebut juga diharapkan berdampak pada peningkatan produksi gabah kering giling pada periode panen Sub Round 1 tahun 2027.
“Berapa peningkatan produksinya, itu sangat tergantung dari berapa realisasi luas tanam Oktober–Desember 2026 ini dapat tercapai. Karena untuk Kabupaten Cianjur, jumlah produksi gabah sangat ditentukan oleh besaran luas panen yang dicapai,” sebutnya.
Ia menambahkan, secara normatif pihaknya mengharapkan produksi gabah di Kabupaten Cianjur dapat meningkat minimal sekitar 4 persen per tahun.(zal)







