BERITACIANJUR.COM – Ratusan Siswa Madrasah Aliyah (MA) Bojongjati, Desa Sukamahi, Kecamatan Cijati, Kabupaten Cianjur terpaksa naik rakit ke sekolah karena jembatan penghubung antarkecamatan ambruk.
Mereka terpaksa mengandalkan alat seadanya untuk menyeberangi Sungai Cibuni agar bisa bersekolah.
Saat beritacianjur.com mengunjungi lokasi, aktivitas di Sungai Cibuni nampak cukup berbahaya karena arus yang sangat deras dan bisa mengancam nyawa.
Tak hanya itu, kondisi rakit pun terlihat sederhana karena hanya terbuat dari bambu alakadarnya yang dibuat warga untuk membantu siswa menyeberang.
Wakil Kepala MA Bojongjati, Edi Wahyu mengatakan, aktivitas para siswanya selama hampir 5 tahun menjadi terhambat akibat jembatan yang menghubungkan Kecamatan Kadupandak dan Cijati tersebut terputus.
“Iya siswa di sini itu sudah bertahun-tahun sejak 2021 itu banyak yang memaksa nyeberang ke sungai karena jembatan utamanya putus diterjang arus sungai, jadi mereka sering terlambat,” ujar Edi saat ditemui di halaman MA Bojongjati, Kamis (4/12/2025).
Bahkan, lanjutnya, terkadang saat kondisi arus sangat deras dengan debit air yang tinggi, para siswa tersebut terpaksa tidak masuk sekolah karena kondisi yang tidak memungkinkan.
“Jadi mereka yang memang rumahnya pada jauh dan harus menyeberang untuk ke sekolah, terkadang ada yang tidak masuk karena sangat membahayakan,” imbuhnya.
Edi menuturkan, walaupun sebenarnya terdapat jalan alternatif lain untuk menempuh perjalanan ke sekolah, akan tetapi mereka tetap memilih untuk menyeberang menggunakan rakit.
Menurutnya, selain karena perjalanannya yang jauh dengan perkiraan memakan waktu sekitar 1 jam, kondisi jalananya pun sangat tidak layak dilintas karena terjal sehingga membahayakan.
“Masih ada jalan lain lagi untuk menyeberang, tapi perjalanannya sangat jauh dan akses jalannya pun rusak,” tuturnya.
Edi berharap, ke depannya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur dapat segera membangun atau memperbaiki kembali jembatan yang terputus tersebut dan aktivitas siswa bisa kembali normal.
“Semoga saja bisa kembali normal, karena kasihan mereka demi ke sekolah saja harus menyeberangi sungai menggunakan rakit,” tegasnya.
Sementara itu, salah seorang siswa MA Bojongjati, Sela yang kini duduk dibangku 12, menceritakan aktivitas perjalanan ke sekolahnya yang dipaksakan harus menyeberangi danau dan menggunakan rakit.
“Iya saya setiap hari lewat sini menggunakan rakit biar bisa sekolah. Meskipun jalan lain ada, tapi muter jauh jadi mau tidak mau saya harus berani lewat sini. Awalnya takut, tapi lama-lama karena terbiasa jadi tidak takut lagi,” paparnya.
Sela mengaku menghadapi kondisi tersebut sejak duduk di bangku kelas 10 sampai saat ini ia sudah kelas 12. Sebab itu, ia berharap jembatan yang terputus beberapa tahun lalu, segera diperbaiki agar kondisi kembali normal.
“Saya berharap jembatan ini bida diperbaki agar aktivitas belajar tidak terhambat oleh ini,” pungkasnya.(gil/gap)










