Keluhan Warga Cilaku soal Limbah Dapur MBG, Bau Menyengat dan Air Sumur Tercemar, Ini Kata Kepala SPPG

BERITACIANJUR.COM – Masih hangat dalam ingatan saat seorang balita di Kecamatan Leles meninggal dunia diduga karena keracunan makan bergizi gratis (MBG). Kini, permasalahan yang berkaitan dengan MBG kembali muncul di Cianjur.

Di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, seorang warga yang rumahnya berada dekat dengan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukasari 3 Cilaku, menyampaikan berbagai keluhannya.

Warga tersebut bernama Mira Novianti Dimyati (47). Ia mengatakan, semenjak dapur MBG berdampingan dengan rumahnya, ia kerap mencium bau menyengat yang berasal dari limbah dapur MBG.

Tak hanya itu, air sumur yang biasa digunakan kehidupan sehari-hari pun ikut tercemar. Menurutnya, keberadaan dapur MBG itu menimbulkan dampak pada lingkungan sekitar dalam tiga pekan terakhir.

“Iya jadi awal kecium bau tidak sedap itu pada Jumat (9/3/2026) lalu saat saya pulang dari rumah sakit. Pokoknya di sekitaran lingkungan rumah saya jadi bau sejak dapur MBG itu beroperasi,” ujar Mira belum lama ini.

Menurutnya, bau tak sedap yang muncul dari limbah dapur MBG itu sampai tercium ke dalam rumahnya, baik saat siang maupun malam hari. Hal itu tentunya membuat dirinya tidak nyaman, terlebih ia yang mengaku memiliki riwayat penyakit asma yang kerap kambuh akibat aroma menyengat tersebut.

“Saya punya riwayat asma, kadang karena bau itu jadi sering batuk, pusing, sampai tekanan darah juga naik,” ungkapnya.

Selain itu, sambung dia, air sumur bor di rumahnya yang sudah tercemar limbah dapur kini sudah tidak layak untuk digunakan kebutuhan sehari-hari.

“Air sumur itu kan biasanya buat keperluan sehari-hari, dan sekarang menjadi gatal saat digunakan untuk mandi, terus menjadi tidak layak juga untuk diminum,” ucapnya.

Karena merasa khawatir, ia pun melaporkan kejadian tersebut kepada aparat setempat dan mengambil sampel air sumur untuk diserahkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Saya sudah lapor kejadian ini ke RT, RW dan membawa sampel air ke DLH. Katanya mau ada tindak lanjut, tapi sampai sekarang ini belum ada yang survei ke rumah saya,” tuturnya.

Ia berharap kejadian seperti ini menjadi perhatian pemerintah daerah dalam melakukan pengecekan terkait legalitas dan kelayakan operasional dapur tersebut, terutama dalam sistem pembuangan limbah.

“Dapur itu kan posisinya nempel di pinggir rumah saya, harusnya tempat atau dapur seperti ini tidak berada di dekat rumah apalagi pembuangan limbahnya yang belum siap. Harapan saya harusnya dijalankan dulu aturan yang ada, dan pemerintah harus adil menindaklanjuti keluhan warga,” tegasnya.

Mendapat keluhan warga tersebut, Kepala SPPG Sukasari 3, Aulia Rachman membantah adanya aroma tak sedap yang berasal dari limbah dapur yang ia jalankan.

Menurutnya, bau tak sedap yang dikeluhkan warga tersebut merupakan aroma dari aktivitas pembuatan makanan. Apalagi saat proses memasak, lanjut Rachman, memang akan menimbulkan aroma tertentu.

“Yang dikeluhkan warga kemarin itu sebenarnya bukan bau limbah, tetapi itu memang bau masakan karena kami kan memproduksi makanan. Jadi ada aroma masakan saat memasak,” katanya.

Ia mengeklaim bahwa dapurnya sudah memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang sudah memenuhi standar, sehingga dapat dipastikan tidak akan ada aroma yang muncul dari pengolahan limbah.

“Kami dulu memang pakai IPAL konvensional tapi sekarang sudah diganti dengan yang baru dari perusahaan, dan itu sudah ada perawatan teknisinya juga. Jadi dipastikan sesuai dengan standar sih. Kami juga sudah mendapat seluruh persyaratan izin lainnya,” tegasnya.

Ia menjelaskan, terkait keluhan warga yang merasa muncul bau tak sedap bersumber dari limbah dapur, pihaknya akan memastikan terlebih dahulu kebenarannya karena kemungkinan adanya faktor lain.

Bahkan pihaknya sudah sempat melakukan mediasi dengan pemerintah desa untuk menindaklanjuti keluhan-keluhan warga terhadap dapur SPPG Sukasari 3 tersebut.

“Adapun keluhan warga yang merasa ada bau limbah dari dapur, ya kami akan periksa dulu siapa tahu ada faktor lain. Keluhan seperti ini memang bukan yang pertama, dulu sudah pernah kami mediasi dan sudah kami tindaklanjuti keluhan-keluhan warga beberapa waktu lalu,” pungkasnya.(gil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *