BERITACIANJUR.COM – Malam itu, saat langkah kaki Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian terhenti di atas podium sidang paripurna DPRD Cianjur, suasana tenang mendadak berubah menjadi kehebohan. Bukan karena lantangnya interupsi dari wakil rakyat, namun kejutan datang dari sejumlah mahasiswa. Spanduk bertuliskan “Keluarga Sanusi, Santun tapi Korupsi!!!” dibentangkan.
Nama Keluarga Sanusi yang santun tapi korupsi mendadak mengalahkan popularitas keluarga cemara yang merupakan simbol keluarga ideal yang harmonis, sederhana, dan penuh kasih sayang, meski di tengah keterbatasan. Betapa tidak, kalimat “Keluarga Sanusi, Santun tapi Korupsi” banyak dijadikan judul dalam pemberitaan di media konvensional maupun media sosial.
Entah siapa dan keluarga siapa yang pantas disematkan gelar keluarga sanusi yang dimaksud mahasiswa tersebut. Hanya saja, momen pembentangan spanduk kritikan itu dibentangkan tepat saat Bupati Cianjur naik podium sidang paripurna DPRD.
Saat itu, tepatnya pada Senin (20/4/2026) malam, agenda sidang paripurna tengah membahas usulan rancangan peraturan daerah (Raperda). Awalnya, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cianjur, hanya duduk santai di lantai dua ruang Paripurna DPRD Cianjur.
Saat spanduk dibentangkan di momen Bupati Cianjur naik podium untuk memberikan tanggapan, sejumlah pihak berupaya menurunkan spanduk. Namun untuk menghindari gejolak yang lebih besar, akhirnya mahasiswa mengamankan sendiri spanduk tersebut.
Ketua DPC GMNI Cianjur, Agus Rama Tunggara, mengungkapkan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa akibat ketidakhadiran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur dalam audiensi terkait berbagai permasalahan di Cianjur.
Menurut Rama, sebelum puncaknya datang ke sidang paripurna DPRD Cianjur pada malam hari sekitar pukul 19.00 Wib, siang harinya mahasiswa mendatangi Pendopo Cianjur untuk beraudiensi dengan Pemkab Cianjur. Namun mahasiswa kecewa karena tidak dihadapkan langsung dengan bupati.
“Ini bentuk kekecewaan kami. Berbagai permasalahan ingin kami sampaikan, mulai dari dugaan praktik korupsi, janji politik yang banyak belum terlaksana, hingga banyaknya tim sukses yang direkrut dalam Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Cianjur,” ungkapnya, Rabu (22/4/2026).
Dugaan yang disampaikan Rama tersebut diklaimnya bukan tanpa dasar. Namun menurutnya, perekrutan berdasarkan lingkungan tim sukses dibenarkan oleh salah seorang perwakilan TPPD yang beraudiensi dengan mahasiswa.
“Jadi katanya direkrut berdasarkan lingkungan tim sukses dan ini dibenarkan oleh salah seorang perwakilan dari TPPD. Jadi, ini sangat harus dipertanyakan karena bukan kompetensi tapi kedekatan yang diutamakan,“ sebutnya.
Selain itu, berdasarkan berbagai temuan dari mahasiswa, pihaknya menduga adanya praktik korupsi di lingkungan Pemkab Cianjur.
“Jadi dalam dalam perspektif teori hukum dan kriminologi, fenomena pembentukan tim ad hoc dan rekrutmen dapat dibedah menggunakan formulasi Robert klitgaard, yang menyatakan bahwa korupsi lahir dari rumus corruption ialah monopoly ditambah discretion dan kurangnya accountability. Itu terjadi di Cianjur,” bebernya.
Saat ditanya terkait “Keluarga Sanusi, Santun tapi Korupsi”, Rama menegaskan kalimat tersebut ditujukan kepada pihak yang merasa dan tidak tertuju pada salah satu pihak.
“Jadi kalau yang tidak merasa Keluarga Sanusi ya jangan marah atau tersinggung. Kalau yang merasa yang pastinya tersinggung,“ ucapnya.
Menanggapi aksi mahasiswa tersebut, Ketua DPRD Cianjur, Metty Triantika, menyayangkan hal itu terjadi di forum resmi lembaga legislatif yakni sidang paripurna DPRD Cianjur.
“Rapat paripurna merupakan forum tertinggi yang seharusnya dijaga kehormatannya oleh semua pihak. Bukan kami mau melarang aksi, tapi aspirasi atau aksi bisa dilakukan di momen lain,“ kata dia.
Ia berharap ke depannya kejadian tersebut tidak terulang lagi dan meminta semua pihak untuk menghormati aturan serta tata tertib yang berlaku dalam forum paripurna.
“Kita bisa sama-sama menghormati rapat paripurna dengan baik sesuai dengan aturan dan tata tertibnya. Agar rapatnya berjalan dengan baik, jika ingin menyampaikan aspirasi sebaiknya dilakukan di momen lain,“ paparnya.
Ketika diminta tanggapannya terkait kalimat Keluarga Sanusi, Metty mengaku tidak mengetahui maksud dari kalimat yang tertulis dalam spanduk tersebut. “Kalimat itu arahnya ke mana, saya juga tidak paham,“ tutupnya.(gie)










