Pasca-peristiwa Tenggelamnya Puluhan Perahu di Pantai Jayanti, Ini Imbauan Polairud Polres Cianjur untuk Nelayan

BERITACIANJUR.COM – Pasca-peristiwa tenggelamnya puluhan perahu nelayan akibat cuaca buruk disertai gelombang tinggi di Pantai Jayanti, Cidamar, Kecamatan Cidaun, Cianjur selatan, Kasat Polairud Polres Cianjur, AKP Asep Machfud, menyatakan kondisi pelabuhan sudah kembali normal.

Meski begitu, ia tetap mengimbau agar para nelayan untuk selalu waspada terhadap cuaca ekstrem atau bahaya di laut lainnya.

“Meski kondisinya sudah normal, imbauan kita tetap sama agar para nelayan untuk terus mengantisipasi bahaya di laut. Pokoknya koordinasi dan komunikasi harus terus dijaga,“ ujarnya, Kamis (7/8/2025).

Ia menyebutkan, data awal terkait jumlah total perahu nelayan yang tenggelam terdapat kekeliriuan. Pada Rabu (30/7/2025) lalu, sambung dia, data perahu yang tenggelam disebutkan berjumlah 67 unit, padahal data yang benar berjumlah 61 unit.

“Jadi data yang benar itu ada 61 perahu yang tenggelam. Sebanyak 57 sudah berhasil dievakuasi sedangkan 4 lainnya dinyatakan hilang dan kemungkinan hancur diterjang ombak,“ ungkapnya.

Ia menyebutkan, proses evakuasi dilakukan sejak Senin (4/8/2025) dan rampung pada Selasa (5/8/2025) lalu. “Selama dua hari itu kita berhasil mengevakuasi sebanyak 57 perahu nelayan,“ sebutnya.

Sementara itu, Humas Rukun Nelayan (RN), Wawas Samantri, memperkirakan total kerugian akibat peristiwa tenggelamnya puluhan perahu nelayan mencapai ratusan juta rupiah. Selain akibat kerusakan pada mesin, lanjut dia, kerugian dihitung dari biaya evakuasi dan jumlah perahu yang hilang.

“Perkiraan kerugian itu dihitung dari beberapa hal. Biaya evakuasi perahu saja sekitar Rp3 juta per unit, belum lagi kerusakan mesin yang biaya perbaikannya bisa mencapai Rp1,5 juta per unit. Belum lagi buat perahu yang hilang, mungkin satu unit bisa dihitung Rp80-90 juta per unit. Jadi kalau ditotalkan bisa mencapai ratusan juta rupiah,“ bebernya.

Soal kerugian tersebut, Wawas menyebutkan semuanya ditanggung secara mandiri oleh nelayan karena selama ini memang belum ada skema bantuan khusus dari pemerintah.

“Iya, mau gimana lagi, semua kerugian itu ditanggung oleh nelayan masing-masing. Setelah evakuasi, kondisi sekarang masih banyak mesin perahu yang sedang dibongkar dan dikeringkan,” katanya.

Terkait evakuasi, ia menerangkan, setelah empat perahu dinyatakan hilang, proses pencarian dihentikan karena diprediksi posisi perahu sudah berada di kedalaman 20 depa yang tidak memungkinkan untuk diselami.

“Karena posisi perahunya sudah tidak terlihat lagi, atau mungkin sudah di kedalaman 20 depa. Jadi empat perahu lagi dinyatakan hilang,“ pungkasnya.(gil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *