BERITACIANJUR.COM – Situs Gunung Padang yang berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Kebenaran ahli geologi yang mengklaim Gunung Padang sebagai piramida tertua di dunia, belum terjawab. Apalagi klaim tersebut menuai kritikan ilmuwan dunia. Lalu bagaimana nasib penelitian Situs Gunung Padang?
Baru-baru ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan, meski tidak ada cetak birunya, pemugaran situs Gunung Padang akan segera dilakukan. Ia berharap pemugaran yang akan dilakukan berdasarkan hasil penelitian, bisa selesai seperti Candi Borobudur dan Prambanan.
Menanggapi hal itu, Arkeolog sekaligus Tim Terpadu Manduru Gunung Padang, Ali Akbar mengklaim, penelitian dan pemugaran Gunung Padang merupakan usulan dirinya saat diskusi publik bersama Kementerian Kebudayaan.
“Jadi saat diskusi dengan menteri, saya usulkan langsung. Saya menyebutnya studi teknis pemugaran. Setelah dipertimbangkan, beliau (Fadli Zon, red) menyetujui pemugaran dilakukan,“ ujarnya saat dihubungi, Selasa (29/4/2025).
Ali menyebutkan, penelitian Gunung Padang sempat terhenti karena masa berlaku izin riset habis. Penelitian akan kembali dilanjutkan karena pihaknya sudah mengantongi izin baru.
“Iya, penelitian akan kembali dilanjutkan karena izin sudah dikeluarkan Kementerian Kebudayaan. Riset kan harus melalu prosedur perizinan pemerintah. Rencananya dua bulan ke depan akan dimulai. Ini bukan eksplorasi biasa, melainkan riset yang bersifat terapan, yaitu studi teknis pemugaran,“ jelasnya.
Selain menggali pengetahuan ilmiah, sambung dia, riset tersebut juga mendukung upaya pelestarian situs yang fokus utamanya memperkuat struktur Gunug Padang agar lebih tahan terhadap kerusakan.
“Karena kondisi situsnya cukup rentan, sekarang kan banyak imbauan jangan disentuh atau dipijak. Makanya arah risetnya bagaimana memperkuat konstruksinya,“ ucapnya.
Menurutnya, meski sebagian struktur Gunung Padang berantakan dan perlu dirapikan agar bentuk aslinya bisa dipelajari, namun sebagian strukturnya masih utuh.
“Pada 1973-1983 saat pemugaran Candi Borobudur, itu dibantu pihak asing sampai akhirnya Indonesia mampu menangani pemugaran sendiri. Saya setuju ada peneliti asing terlibat. Kita bisa belajar teknik pemugaran mereka, seperti saat Borobudur dulu. Saya juga sudah studi banding ke Spanyol melihat cara mereka merapikan situs megalitik di sana,” bebernya.
Ia menilai, penelitian dan pemugaran ini sangat penting. Pasalnya, penelitian sebelumnya belum tuntas serta penelitian vertikal serta horizontal masih terus dilakukan.
Menurutnya, di sisi kedalaman, sudah ditemukan indikasi temuan hingga lebih dari 10 meter. Sedangkan secara horizontal, area yang dieksplorasi saat ini baru mencakup sebagian kecil dari total luasan situs.
“Luas Situs Gunung Padang ini diperkirakan 29,1 hektar hingga 30 hektar. Tapi baru sekitar 10 persen yang terlihat. Kita baru buka sisi timur dan sebagian utara, itu pun baru sekitar 300 meter persegi,” jelasnya.
Sementara berdasarkan hasil riset dan ekskavasi, sambung Ali, pemerintah akhirnya menetapkan kawasan situs Gunung Padang yang dilindungi seluas 29,1 hektar.
“Tapi pembukaan area belum sepenuhnya dilakukan dan masih bersifat sampel. Strukturnya luar biasa besar dan yang kelihatan sekarang ini baru sedikit sekali. Makanya riset harus terus berlanjut,” tutupnya.(gil)







