BERITACIANJUR.COM – Penyebab 134 orang di Kecamatan Leles, Cianjur, mengalami keracunan dan menyebabkan 1 orang balita tewas akhirnya terungkap.
Meski terdapat perbedaan antara hasil uji laboratorium yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Cianjur dengan laporan yang disampaikan Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), namun keduanya menyebutkan penyebab keracunan diakibatkan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Cianjur, Javed Sumawe Matapung, mengungkapkan dari sampel MBG yang diuji di laboratorium ditemukan adanya bakteri yang memicu gangguan kesehatan.
“Iya dari hasil lab ditemukan ada bakteri. Bukan bakteri ecoli tapi bakteri yang ditemukan bisa memicu gangguan kesehatan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Ia menyebutkan, uji lab dilakukan selama tiga hari sejak 15 hingga April 2026. Pihaknya menguji 12 sampel makanan dari menu MBG.
Bakteri yang ditemukan, sambung dia, dapat menyebar ke berbagai tahapan dalam pengolahan, mulai dari proses pembersihan, memasak, hingga tahapan pengemasan. “Jadi ini masalah kehigienisan, karena bakteri dipicu adanya aktivitas sentuhan,” ungkapnya.
Selain bakteri, Javed juga menyebutkan pihaknya menemukan kandungan zat kimia nitrat yang terdapat di dua sampel yang diuji.
“Iya selain bakteri, kami juga menemukan nitrat dengan kandungan sekitar 0,02 mg/kg yang ada dalam dua sampel. Kadar nitratnya masih di bawah ambang batas,” sebutnya.
Berbeda dengan Dinkes Cianjur, Tim Investigasi Independen BGN membantah adanya cemaran bakteri. Dari laporannya, disebutkan bahwa hasil uji laboratorium Labkesda Jawa Barat untuk menu MBG di SPPG Leles 2 yang dilakukan pada 13, 14, 15, 17, 18 April 2026, tidak ditemukan cemaran bakteri. Namun saat uji lab pada 16 April 2026, ditemukan adanya cemaran zat kimia nitrit di salah satu menu MBG, yakni tumis pakcoy.
Disebutkan juga, kandungan nitritnya sangat tinggi, yakni 11,85 mg/kg atau 169 kali lipat dari batas maksimum The Join FAO/WHO Expert Commitee in Food Addictices (Jecfa) untuk nitrit yakni hanya 0,07 mg/kg.
Menanggapi laporan tersebut, Ketua Tim Investigasi Independen MBG, Karimah Muhammad, memaparkan sebagian buah dan sayuran secara ilmiah memang dapat mengandung nitrit dengan kadar yang dapat meningkat. “Hal itu diakibatkan oleh aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga menyebutkan dugaan sumber lain bisa berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian.
“Persoalan cemaran nitri perlu ditangani serius melalui koordinasi lintas sektor termasuk Kementerian Pertanian, mengingat potensi dampaknya terhadap keamanan pangan,” jelasnya.
Terpisah, Koordinator SPPG Kabupaten Cianjur, Sirojudin, mengatakan SPPG Leles 2 sudah diberhentikan sementara pasca-peristiwa 134 warga Leles yang didominasi balita keracunan yang menyebabkan 1 balita tewas.
“Karena SPPG-nya berhenti beroperasi, jadi sebagian penerima manfaat ditangani SPPG lain, sedangkan sebagian lagi belum menerima MBG karena tidak tercover SPPG terdekat,” terangnya.
“Soal sanksi lebih lanjut setelah adanya hasil lab, itu belum keluar. Kami menunggu informasi dari BGN Pusat,” tutupnya.(gil)
Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan keracunan akibat santapan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini menimpa balita dan ibu menyusui di Desa Sukasirna dan Purabaya Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur.
Kejadian bermula saat beberapa warga mengeluhkan mual, muntah, dan diare usai menyantap menu MBG yang dibagikan di posyandu. Kondisi tersebut terjadi dalam beberapa hari, yakni sejak Selasa (14/4/2026) hingga Jumat (17/4/2026).
Sebanyak 134 orang di Kecamatan Leles yang mengalami keracunan tersebut didominasi oleh anak-anak.
Lalu, pada Kamis (23/4/2026), seorang balita asal Kecamatan Leles, Cianjur, berinisal MAB (2) tutup usia diduga karena keracunan MBG.
MAB merupakan satu dari ratusan orang di Kecamatan Leles yang diduga mengalami keracunan sesuai menyantap MBG pada Selasa (14/4/2026) lalu. Balita malang tersebut dinyatakan meninggal di RSUD Pagelaran pada Kamis (23/4/2026).
Setelah mengalami keracunan, MAB sempat dirawat di Puskesmas Leles pada Selasa (14/4/2026). Dikarenakan kondisinya terus memburuk, akhirnya MAB dirujuk ke RSUD Pagelaran pada Rabu (22/4/2026) sore. Namun setelah 12 jam mendapatkan penanganan medis, nyawa MAB tak tertolong karena kondisinya terus memburuk.(gil)







