BERITACIANJUR.COM – Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, mendaki Situs Megalitikum Gunung Padang tepat di tengah malam bulan purnama saat meresmikan tahap awal pemugaran dan penelitian lanjutan situs yang disebut sebagai piramidanya Indonesia.
Alasan kedatangannya di tengah malam bulan purnama tersebut sengaja dilakukan untuk mengukir sejarah, dan sekaligus ingin merasakan nuansa full moon atau bulan purnama saat berada di atas permukaan teras Situs Megalitikum Gunung Padang, yang berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur.
Walaupun rencananya tersebut sempat terhalangi oleh kabut tebal yang menutupi terangnya pancaran cahaya bulan, yang biasanya dapat menerangi seluruh kawasan Gunung Padang pada malam hari.
Namun bersama rombongannya, Fadli Zon, yang tiba di Situs Megalitikum Gunung Padang sekitar pukul 23.35 Wib Selasa (7/10/2025), tetap memutuskan menaiki tangga untuk sampai ke teras utama situs sekitar pukul 23.55 Wib.
Mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut didampingi oleh Ketua Tim Peneliti Situs Megalitikum Gunung Padang, Ali Akbar, selama menaiki satu demi satu anak tangga yang mengarah ke atas permukaan situs.
Hingga saat tiba di teras utama, Fadli Zon langsung mengecek beberapa lokasi teras yang terlihat bebatuannya sedang dalam proses penggalian, untuk mengungkap misteri yang terkubur di dalam situs tersebut.
Bahkan ia pun merasakan suasana sakral saat disambut oleh warga sekitar yang menyuguhkan pertunjukan seni musik budaya, hingga ditutup dengan doa bersama agar proses pemugaran dan penelitian berjalan dengan lancar, tepat berada di teras ketiga Situs Megalitikum Gunung Padang yang tengah berkabut tebal pada dini hari.
“Iya dalam kesempatan kita berkunjung ini dalam rangka dimulainya kajian dan pemugaran Situs Cagar Budaya Nasional Gunung Padang, dan tentu saja kita juga berdoa tadi lalu ada juga pertunjukan kecapi suling serta beberapa kegiatan budaya yang dilakukan malam ini,” ujar Fadli Zon kepada wartawan.
Menurutnya, Situs Megalitikum Gunung Padang ini merupakan salah satu situs yang sangat penting untuk dipugar, dan berbagai kajian yang dilakukan oleh beberapa lintas keilmuan juga dapat segera mengungkap fungsi situs di masanya.
“Tentunya situs ini sangat penting diperbaiki dan dipugar, sekaligus para ahli keilmuan geologi, arkeologi, arsitektur, sejarah dan lain-lainnya bisa terus mengkaji bagaimana situs ini pada masanya di masa lalu berfungsi. Diharapkan juga akan ada temuan-temuan mungkin terkait dengan indikasi usia dan yang sementara ini diepercaya adalah buatan manusia,” imbuhnya.
Ia menerangkan, hal tersebut juga diperkuat dengan adanya temuan peneliti yang menemunkan batu columnar joint (kekar kolom), yang kemungkinan besar sengaja disusun oleh manusia pada zamannya untuk menopang seluruh lapisan situs.
“Termasuk yang di lereng juga kita temukan ada batu columnar joint yang kemungkinan besar memang buatan manusia yang digali. Jadi susunan batu-batu columnar ini menopang keseluruhan lapisan situs. Nah hal ini saya kira yang sedang kita usahakan untuk pemulihan dan pemugaran Situs Gunung Padang,” jelasnya.
Walaupun rencana proses pada tahap awal pemugaran ini selama tiga bulan, namun ia menjelaskan, sifatnya akan berjalan secara bersinambungan atau berkelanjutan. Artinya, sambung dia, proses pemulihan atau perbaikan pada setiap teras akan bertahap dimulai dari lapisan samping yang rawan longsor.
“Jadi sesuai kata Ali Akbar sebagai ketua peneliti, yang akan dirapihkan dulu itu itu adalah sampingnya, karena kalau tadi kita lihat memang rawan longsor. Kemudian tadi ada juga yang teras yang sedang digali sampai 7 meter, nah itu juga akan diteliti lebih lanjut secara bertahap,” paparnya.
Fadli Zon juga menerangkan, struktur lapisan Situs Megalitikum Gunung Padang ini merupakan punden berundak yang artinya situs piramidanya Indonesia, yang perlu segera dilakukan penataan dengan baik namun harus juga berhati-hati mengingat situs ini tepat berada di bukit.
“Yang terpenting itu penataannya dan harus hati-hati karena ada di bukit. Strukturnya juga kan ini mulai kelihatan bahwa ini sebuah punden berundak yang ada teras-terasnya yang menopang, jadi ini lah sebenarnya piramidanya Indonesia itu ya seperti ini,” terangnya.
Ia menambahkan, harapannya saat berkunjung ke situs pada tengah malam bulan purnama yaitu agar terasa saat diterangi oleh cahaya bulan. Walaupun, lanjutnya, nyatanya ia malah mendapatkan nuansa yang lain saat kabut tebal menyelimuti udara.
“Ya tadi kita datang ke sini itu ada multi kabut ya dan itu juga jadi nuansa pengalaman yang luar biasa juga bagi saya. Nanti mungkin di waktu yang akan datang, bakal terang ada bulan mungkin akan terlihat lebih alami. Sesuai dengan nama Gunung Padang ini terang apalagi saat fenomena bulan purnama,” pungkasnya.(gil)







