oleh

APA KABAR PROYEK REST AREA PUNCAK FIKTIF?

CRC: Pelanggarannya Sudah Jelas, Aparat Penegak Hukum Harus Segera Mengusutnya

Beritacianjur.com – PROYEK pembangunan rest area puncak senilai Rp3,9 M sudah jelas-jelas fiktif karena tak ditemukan keberadaannya. Namun kenapa hingga saat ini tindak lanjut dari aparat penegak hukum belum juga ada kabarnya?

Itulah ungkapan yang dilontarkan Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik, Cianjur Riset Center (CRC), Anton Ramadhan kepada beritacianjur.com, Rabu (6/11/2019). Menurutnya, apapun alasan Dinas PUPR Cianjur, proyek tersebut sudah jelas fiktif.

“Dugaannya sangat kuat kok, mau alasan apapun wujud bangunan rest area tak ditemukan di sepanjang Puncak, yang ada hanya gapura dan lampu hiasan Asmaul Husna saja,” terangnya.

Sebagai pembanding untuk menunjukkan bahwa pembangunan rest area Puncak fiktif, sambung Anton, aparat bisa melihat jenis kegiatan yang sama di empat wilayah lainnya, yakni proyek pembangunan rest area Cidaun, Naringgul, Haurwangi dan Cikalongkulon.

Anton menjelaskan, di empat wilayah tersebut, item yang dibangun adalah rest area, gapura dan lampu PJU. Sedangkan di Puncak hanya ditemukan gapura dan lampu hiasan Asmaul Husna saja.

“Logika saja, semua pembangunan rest area itu itemnya sama. Ketika di Puncak hanya dibangun gapura dan lampu saja, lalu kenapa anggaran yang dihabiskan masih tetap Rp3.9 M. Jangan lupa juga dengan adanya pekerjaan pengawasan teknis pembangunan rest area Puncak Rp100 juta, dan DED rest area puncak senilai Rp200 juta. Semua judul kegiatannya rest area Puncak, tapi rest areanya tidak dibangun,” ungkapnya.

Menurutnya, dugaan fiktif semakin kuat ketika Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Cianjur, Dedi Supriadi mengakui adanya kesalahan yang dipermasalahkan pada pekerjaan pembangunan rest area Puncak.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Pelita Baru, kasus dugaan fiktif di Dinas PUPR ini sudah ditangani Polres Cianjur. Bahkan sejumlah pejabat Dinas PUPR sudah diperiksa. “Saya berharap aparat bisa segera mengusut tuntas, karena dugaan fiktifnya sudah sangat kuat,” katanya.

Sebelumnya, Kadis PUPR Cianjur, Dedi Supriadi akhirnya mengakui adanya kesalahan yang dipermasalahkan pada pekerjaan pembangunan rest area Puncak.
Dedi menjelaskan, pada perencanaan awal sudah direncanakan membangun rest area. Namun karena terjadi longsor di lokasi awal, sambung dia, maka pembangunan rest area dibatalkan dan hanya membangun gapura atau gerbang dan lampu hiasan Asmaul Husna. Menurutnya, informasi tersebut diperoleh dari pejabat pembuat komitmen (PPK).

“Pembangunan rest area di setiap perbatasan itu itemnya sama, ada gapura, PJU dan rest area. Nah makanya ada kesalahan kenapa namanya rest area tapi rest areanya tidak ada? Itu yang dipermasalahkan,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dedi terlihat bingung ketika wartawan menyebutkan, meski rest area tidak jadi dibangun dan hanya membangun gapura dan lampu Asmaul Husna, namun anggaran yang dihabiskan tetap Rp3,9 M. Ia mengatakan hal tersebut harus ditanyakan ke bidang bangunan gedung.

“Kalau tidak ada longsor, mungkin ada rest area di Puncak. Pusat juga bilang tidak boleh dibangun karena daerahnya rawan,” terangnya.

Penjelasan Dedi tersebut semakin memperjelas permasalahan yang terjadi pada proyek rest area Puncak, setelah sebelumnya Kepala Bidang Bangunan Gedung Dinas PUPR Cianjur, Wahyu Budi Raharjo, selalu memberikan keterangan yang berubah-ubah.

Awalnya, Budi sempat memberikan keterangan bahwa pembangunan rest area memang tidak dkerjakan dikarenakan terjadinya longsor. Di hari yang berbeda, Budi memberikan penjelasan yang berbeda pula, yakni dari awal perencanaan memang tidak ada pembangunan rest area.

Di hari lain, Budi kembali menjelaskan bangunan rest area tak jadi dibangun karena terjadinya longsor. Lalu di hari berikutnya, Budi mengatakan, dari awal perencanaan memang tidak ada pembangunan rest area.

“Sanes teu kabangun kang, tapi memang dari perencanaan awal teu aya rest areana, ruang lingkup pekerjaan antawis perencanaan sareng pelaksanaan pekerjaan tos sesuai kang,” ucapnya.

Penjelasan berubah tak berhenti sampai di sana. Dua jam kemudian, Budi mengatakan, konsep awal memang akan dibangun rest area.

“Aduh pusing pala berbie nih kang, konsep awal emang aya kang anu lokasi awal mah. Eta teh cita-cita. Manusia berencana tuhan jualah yang menentukan karena lokasinya longsor. Jadi perencanaan yang ngawitna aya, diubah jadi ga ada. Tapi hilap judul henteu dirobih kang begitu. Jawaban pak kadis benar kang, jawaban abdi kirang lengkap, maklum pusing hatur nuhun,” katanya melalui pesan Whatssap, beberapa waktu lalu.(gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Timeline