Kios Warpat Puncak Bogor Ditutup, Pedagang Keluhkan Jumlah Wisatawan Jadi Berkurang 

BERITACIANJUR.COM – Pascapembongkaran hingga penutupan kios Warung Patra (Warpat) di Puncak Bogor rupanya membuat para pedagang di kawasan Puncak Cianjur turut mengeluh karena menurunnya jumlah wisatawan yang datang berkunjung.

Seperti diketahui, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor melaksanakan penertiban kios tahap II di Puncak Bogor hingga Warpat, pada Senin (26/8/2024) lalu.

IMG 20240915 WA0036 scaled

 

Kebijakan tersebut, membuat para pedagang di kawasan Puncak Cianjur mengeluh. Pasalnya, wisatawan yang tadinya sangat ramai datang, saat ini menjadi sepi.

“Tadinya banyak yang mikir kalau Warpat tidak ada bakalan ramai kios yang berada di dekatnya, nyatanya malah sepi bahkan kebanyakan hanya numpang parkir,” ujar Alpar (17), salah seorang pedagang di kawasan Puncak, Minggu (15/9/2024).

IMG 20240915 WA0047 scaled

Bahkan sebelum Warpat dirobohkan, lanjutnya, wisatawan yang berkunjung untuk membeli dagangan miliknya menjadi ramai. Sebab biasanya, setelah para pengunjung selesai beristirahat ke Warpat, tempat warung miliknya pasti dikunjungi para wisatawan tersebut.

“Jadi kalau kata saya mah mending ada Warpat lagi. Ditambah pengunjung juga kebanyakan yang melintas pasti tahunya ke situ, setelahnya pasti para pedagang lainnya turut ramai dikunjungi,” imbuhnya.

Kini, kondisi Warpat hanya meninggalkan kenangan dan menyisakan baliho yang masih terpampang. Hal tersebut menciptakan kesan menyedihkan bagi para mantan pemilik kios di lokasi tersebut.

Terpisah, Abu (65) seorang penjaga parkir di kawasan Warpat mengatakan, sebelum hingga setelah Warpat dirobohkan kondisi arus lalulintas di Puncak masih tetap padat setiap harinya, apalagi pada momen weekend.

IMG 20240915 WA0049 scaled

“Selama saya menjaga parkir di sini, kondisi lalin masih sama macet dan tidak ada bedanya selama Warpat masih berdiri. Seperti sekarang macet, karena bertepatan momen weekend,” ungkapnya.

Meski demikian, ia membenarkan jika dirobohkannya Warpat malah membuat kunjungan wisatawan menurun dan berimbas pada penghasilan pedagang di kawasan Puncak.

“Memang jadi tidak ramai, tapi kalau macet mah masih sama. Sekarang malah pedagang yang lainnya yang mengeluh,” imbuhnya.

Ia menuturkan, selama Warpat berdiri, para pengunjung justru sangat terbantu karena dapat bersitirahat sepuasnya di tempat tersebut, dan banyak sekali kegunaan yang dibutuhkan para wisatawan saat adanya Warpat.

“Wisatawan justru banyak yang ikut beristirahat setelah lelah menyupir, terutama wisatawan yang jauh dalam menempuh perjalanan,” paparnya.

Senada dengan Abu, seorang wisatawan asal warga Depok, Alfian (21) mengaku kebingungan ketika berwisata ke Puncak setelah tidak ada Warpat.

Pasalnya, ia dan teman-temannya tidak pernah terlewat mampir ke Warpat untuk membeli kebutuhan untuk bekal di perjalanan.

“Saya kalau setiap ke Puncak pasti selalu mampir atau nongkrong di Warpat, karena di situ pedagangnya baik-baik jadi lebih nyaman ketika istirahat,” tuturnya.

Ia menambahkan, untuk ke depannya semoga Warpat bisa kembali dibangun, agar ramai lagi situasi di Puncak.

“Mudah-mudah bisa dibangun lagi, karena cukup membantu wisatawan yang datang melintas,” tutupnya.(gil/gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *