Kisah Ahmad Jamaludin, Mantan Guru Honorer yang Bangun Sekolah Gratis bagi Siswa Tak Mampu di Pelosok Cianjur

BERITACIANJUR.COM – Kisah perjuangan mantan guru honorer asal Cianjur, Ahmad Jamaludin untuk dunia pendidikan patut menjadi teladan bagi semua orang.

Berkat kerja keras dan keikhlasannya, ia mampu membangun sekolah gratis yang diperuntukkan bagi siswa tak mampu di lingkungan tempatnya tinggal dengan bermodalkan hasil berjualan sapu ijuk yang menjadi komoditas unggul di Desa Jayagiri, Kecamatan Sindangbarang.

Sebelum terjun menekuni usaha sapu ijuk, Ahmad pernah bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar selama 10 tahun lamanya.

“Sudah 10 tahun saya mengabdi sebagai guru honorer di salah satu SD. Kemudian pada 2014 saya berhenti. Merantau ke kota untuk jualan sapu ijuk,” ujar Ahmad belum lama ini.

Setelah tiga tahun menekuni usaha sapu ijuk dengan berbagai perjuangan, Ahmad pun kini sudah memiliki banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Sehingga ia tak perlu lagi berkeliling menjajakan sapu ijuk miliknya.

Pada 2017, Ahmad akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya di Sindangbarang dan mulai menjalankan bisnis sapu ijuk dari rumah dengan mempekerjakan beberapa orang di bagian produksi hingga pemasaran.

Saat kembali ke kampung, Ahmad melihat kondisi yang sangat memprihatinkan, yakni banyaknya anak-anak usia sekolah dasar yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

Alasannya, karena jarak sekolah terdekat yang jauh membuat anak-anak tersebut tak sanggup meneruskan sekolah. Mereka harus menempuh jarak dari jalan utama Kecamatan Sindangbarang sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor.

Tak ayal kondisi jalan pun mengalami rusak parah karena masih berupa bebatuan dan tanah yang sangat licin jika hujan turun.

Selain itu, faktor ekonomi keluarga makin memperparah kondisi tersebut. Sehingga, banyak orang tua memilih untuk tidak menyekolahkan anak-anak mereka.

Baca Juga  Ulang Tahun Ketiga, Balad FC Kumpulkan Donasi bagi Pendidikan Cianjur

“Untuk itulah, saya memutuskan bersama teman-teman yang dulu seprofesi sebagai guru untuk membangun sekolah tingkat SMP, supaya akses siswa ke sekolah dekat,” ungkap Ahmad.

Ia juga bercerita, dari hasil keuntungan menjual sapu ijuk yang dijalaninya, ia berhasil mendirikan bangunan SMP semi permanen sambil mengurus kelengkapan perizinan.

Pada 2020, SMP IT bernama Pancuh Tilu pun resmi beroperasi. Meskipun dengan kondisi seadanya, sekolah tersebut menjadi fasilitas pendidikan utama bagi anak-anak di lingkungannya.

“Sekolah ini mulai beroperasi pada 2020 dan terdiri dari beberapa ruang kelas dengan bangunan semi permanen,” imbuh Ahmad.

Kini, setelah tiga tahun berdiri, SMP IT Pancuh Tilu sudah memiliki 75 siswa yang terus bersemangat untuk belajar agar bisa meraih semua impiannya.

Menurut Ahmad, banyak siswa di sekolahnya yang berasal dari keluarga tidak mampu, tetapi memiliki semangat luar biasa untuk belajar.

Itulah yang menjadikan alasan bagi Ahmad untuk menjadikan SMP IT Pacuh Tilu menjadi sekolah gratis, bahkan ia juga memberikan berbagai bantuan lainnya, seperti seragam dan kebutuhan sekolah lainnya yang juga berasal dari hasil penjualan sapu ijuk.

“Sekolah ini gratis, tiap tahun untuk yang siswa baru akan diberi seragam gratis. Hasil jualan sapu ijuk saya sisihkan untuk memfasilitasi siswa. Karena bagi saya, dengan semangat mereka untuk belajar saja sudah luar biasa dan sudah sepatutnya dibantu,” terangnya.

“Ini juga dilakukan untuk memajukan pendidikan khususnya di wilayah pelosok Cianjur,” tambahnya.

Ahmad juga berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian serius dengan memberikan bantuan berupa ruang kelas baru.

“Sekarang masih semi permanen, karena dibangunnya juga dengan dana seadanya. Makanya saya berharap ada bantuan untuk ruang kelas dan mebeler, supaya siswa bisa belajar lebih nyaman,”¬†tutupnya.(gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *