BERITACIANJUR.COM – Kondisi bangunan Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Sabilunajah Al Bariyah yang berlokasi di Kampung Tanjakan, Desa Padaluyu, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur sangat memprihatinkan.
Ratusan siswanya terpaksa harus belajar di gubuk bambu beratapkan terpal, bahkan sebagian siswa juga belajar di area ziarah makam karena keterbatasan ruangan kelas.
Tak heran jika terik matahari terasa lebih menyengat saat menembus ruangan kelas seadanya tersebut. Ditambah, jika hujan turun, atap gubuk yang bocor kerap membuat banjir ruangan, sehingga proses pembelajaran pun terpaksa dihentikan.
Pemilik Yayasan DTA Sabilunajah Al Bariyah, Misbahudin mengatakan, ruangan kelas dari bambu tersebut sengaja didirikan oleh pihak DTA dan masyarakat sekitar untuk dipakai sebagai tempat pembelajaran para siswa.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut sudah mereka alami hampir tiga tahun lebih pascagempa 5,6 magnitudo Cianjur memorakporandakan bangunan madrasah, yang sebelumnya dijadikan sebagai tempat pembelajaran.
“Sebelumnya kami melakukan pembelajaran di madrasah serba guna, tapi waktu itu karena gempa bangunannya hancur sehingga terpaksa harus belajar di ruangan seadanya ini,” ujar Misbah kepada wartawan, belum lama ini.
Ia menuturkan, karena ruangan yang terbuat dari bambu dengan area terbuka, membuat para muridnya merasa tidak nyaman ketika hujan turun. Ruangan yang banjir memaksa proses pembelajaran menjadi terhenti.
“Jadi memang ini kan ada dua ruangan, satu dari saung bambu itu dan tempat ziarah makam dan keduanya ruangan terbuka, jadi ketika hujan ya kita berhenti dulu, kepinggir dulu sambil nunggu hujan reda,” tuturnya.
Ia menjelaskan, rumah pribadi miliknya pun kini dijadikan sebagai ruang kelas tambahan agar bisa mencukupi jumlah siswa yang berjumlah 170 siswa.
“Untuk jumlah siswa di sini ada 170, nah 100 siswa di antaranya terpaksa belajar di rumah milik saya, karena tidak cukup jika harus menampung semua siswa di ruangan yang terbuat dari gubuk itu,” paparnya.
Walaupun dalam kondisi tersebut, sambungnya, para siswa masih rajin mengikuti pembelaran dan sangat bersemangat setiap harinya.
“Alhamdulillah masih pada semangat walaupun dengan kondisi kekurangan fasilitas,” ucapnya.
Menurutnya, sampai saat ini belum ada bantuan bahkan tanggapan dari pemerintah terkait untuk membangun ruangan kelas yang baru bagi siswanya.
“Sudah tiga tahun ini tidak ada tanggapan baik dari pemerintah desa maupun daerah. Padahal kami sudah menyampaikan kondisi kami selama ini,” pungkasnya.(gil/gap)










