MBG Beroperasi Lagi, Harga Ayam di Pasar Muka Cianjur Tembus Rp40 Ribu per Kg

BERITACIANJUR.COM – Setelah sebelumnya sempat turun saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) diliburkan, harga daging ayam ras di Pasar Muka Cianjur kini kembali merangkak naik.

Salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Muka, Danu Cianjur Dwi Prasetyo (35), mengatakan harga ayam sempat berada di kisaran Rp30 ribu per kilogram kini kembali naik hingga Rp40 ribu per kilogram.

“Harga standar rata-rata itu Rp35.000 per kilogram. Pas libur sempat turun sampai Rp30.000, tapi sekarang naik lagi ke Rp40.000 per kilogram karena program MBG sudah mulai beroperasi lagi dan permintaan ayam makin tinggi,” ujar Danu, saat ditemui beritacianjur.com, Senin (27/7/2026).

Ia menjelaskan, meski harga mengalami kenaikan, namun pasokan daging ayam masih mencukupi. Ia memastikan pemasok tetap mendistribusikan ayam dalam jumlah yang sama tanpa melihat kondisi permintaan di pasar.

“Stok sebenarnya aman. Cuma pihak PT tidak melihat kondisi pasar ramai atau sepi. Yang penting barang dari mereka keluar. Dulu sebelum ada MBG, kalau pasar sepi harga ikut turun, tapi sekarang tidak,” terangnya.

Menurutnya, tidak masalah dengan adanya program MBG. Hanya saja, para pedagang di pasar tradisional belum merasakan manfaat secara langsung karena kebutuhan ayam untuk program tersebut di pasok langsung oleh supplier.

“Kami tidak menyalahkan programnya, tapi dampak ke pedagang kecil memang terasa. Pasalnya, pasokan untuk MBG diambil langsung dari pemasok, bukan dari pedagang pasar. Kalau mereka ambil di pasar, tentu ada dampak positifnya buat kami,” bebernya.

Ia menyebut, kenaikan harga membuat daya beli masyarakat, Khususnya pembeli eceran atau rumah tangga, mulai menurun. Meski demikian, pelanggan tetap seperti pemilik warung makan masih rutin membeli karena daging ayam merupukan kebutuhan utama.

“Pasti ada penurunan dari pembeli eceran atau rumah tangga karena harganya kurang terjangkau untuk kelas menengah ke bawah. Tapi kalau langganan tetap seperti warung nasi, mereka tetap beli karena sudah kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Meski begitu, Danu menyebut volume penjualan secara keseluruhan masih tergolong stabil. Ia justru mengaku sempat menikmati peningkatan omzet ketika program MBG diliburkan karena harga beli ayam lebih murah, sementara permintaan dari masyarakat tetap tinggi.

“Untuk penjualan memang stabil sih. Cuman kemarin pas sempat ada libur MBG memang ada kenaikan. Omzet harian bisa sampai Rp2.000.000-Rp2.500.000 karena modal murah tapi harga jual tetap terbilang tinggi. Udah mah omzet naik, keuntungan naik, bisa dibilang merdeka buat pedagang-pedagang kecil,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, kondisi tersebut berubah setelah program MBG kembali beroperasi. Kenaikan harga ayam membuat jumlah pembeli eceran menurun sehingga omzet harian kembali ke angka normal.

“Sekarang setelah memasuki MBG yang beroperasi lagi, ada penurunan pembeli dibanding kemarin pas libur. Omzet per hari kembali lagi ke angka standar, kurang lebih Rp1.500.000 per hari, paling rendah Rp1.000.000,” bebernya.

Senada, pedagang ayam lainnya, Muhammad Yunus (23), mengatakan harga ayam saat ini berada di kisaran Rp38.000 hingga Rp40.000 per kilogram. Hal tersebut naik dari harga normal yang sebelumnya berkisar Rp34.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

“Harga sekarang per kilogramnya Rp38.000 sampai Rp40.000. Untuk sebelumnya harga normal Rp34.000, Rp35.000,” ujar Yunus.

Menurutnya, kenaikan harga belum diikuti dengan peningkatan penjualan. Jumlah pembeli masih fluktuatif sehingga pedagang memilih mengurangi stok harian dari yang biasanya mencapai 50 kilogram hingga satu kuintal menjadi sekitar 20 hingga 30 kilogram.

“Untuk penjualan sekarang masih naik turun, belum stabil. Yang biasanya pasok 50 kilogram sampai satu kuintal, sekarang paling sekitar 20 sampai 30 kilogram,” tandasnya.(zal/gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Timeline