BERITACIANJUR.COM – Video sebuah bambu pethuk mengeluarkan air secara terus-menerus mendadak viral di media sosial.
Fenomena tersebut pun menarik perhatian masyarakat, bahkan tak sedikit yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis dan menyebut air yang keluar dari bambu itu sebagai “air bertuah” dan memiliki khasiat bagi yang meminumnya.
Diketahui, lokasi bambu tersebut berada di Kampung Limbangan, RT 05/RW 06, Desa Cikaroya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur.
Namun, setelah ditelusuri pihak Kecamatan Warungkondang, ternyata keberadaan bambu tersebut tidak mengandung unsur magis apapun seperti yang ramai diperbincangkan warga.
“Kami sudah cek langsung ke lokasi di Komplek Perumahan Baroya. Setelah kami wawancarai pemiliknya, ternyata itu hanyalah sebuah karya seni buatan warga setempat,” ujar Kasi Trantib Kecamatan Warungkondang, Ahmad kepada wartawan, Rabu (2/7/2025).
Ia menuturkan, pemilik karya seni bambu itu bernama Pak Dodi, warga kampung setempat. Instalasi bambu dibuat dengan teknik khusus sehingga menampilkan kesan air bisa keluar secara terus-menerus dari bambu tanpa terlihat sumber airnya.
“Pemiliknya mengaku sedang membuat konsep kolam dan aliran air tersebut merupakan bagian dari rancangan itu. Tidak ada unsur mistik, sihir, atau hal-hal supranatural,” tegasnya.
Melihat viralnya kejadian tersebut, Pemerintah Kecamatan Warungkondang pun mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dan terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Saat ini, lanjutnya, instalasi bambu sudah dicabut dan lokasi pun sudah ditutup agar tidak menuai persepsi yang salah lagi di kalangan masyarakat.
“Kami mohon masyarakat tidak datang lagi ke lokasi. Jangan mudah percaya pada klaim-klaim yang mengandung unsur mistik, apalagi hanya berdasarkan unggahan di media sosial seperti TikTok,” bebernya.
“Kami tegaskan lagi, itu hanya seni, tidak ada khasiat atau unsur magis di dalamnya,” tambahnya.
Diketahui, air dari bambu tersebut mulai mengalir bertepatan pada malam 1 Muharam, yang juga jatuh pada malam Jumat. Momen tersebut dianggap sebagian masyarakat sebagai pertanda spiritual, yang semakin memicu kesalahpahaman.(iky/gap)









