Ada 16 Pelajar SMP yang Diamankan Polisi saat Ikut Demo, Ini yang Dilakukan Disdikpora Cianjur

BERITACIANJUR.COM – Dari puluhan orang yang diamankan polisi saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Cianjur Sabtu (30/8/2025) lalu, ternyata 16 orang di antaranya merupakan pelajar SMP.

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Cianjur, Helmi Halimudin, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, semua pelajar tersebut kini sudah dipulangkan ke rumahnya masing-masing.

“Pascademo, kita sampai tengah malam di Polres Cianjur karena ada pelajar SMP baik dari swasta maupun negeri yang ikut demo. Ada juga pelajar yang di bawah naungan Kemenag. Semuanya sudah dipulangkan,“ ujarnya saat dihubungi beritacianjur.com, Senin (1/9/2025).

Sebelum dipulangkan atau dijemput orang tua dan sekolahnya masing-masing, pihaknya bersama Polres Cianjur terlebih dahulu memberikan pembinaan terhadap para pelajar SMP yang terlibat demo.

“Mereka kan masih di bawah umur, khawatir juga kalau pelajar SMP ikut demo karena kondisinya ricuh,“ ungkapnya.

Untuk sekolah-sekolah yang masih menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara normal, Helmi menegaskan, Disdikpora Cianjur menekankan kepada pihak sekolah agar mengedukasi dan menyosialisasikan larangan demo bagi pelajar SMP.

“Sedangkan untuk sekolah yang saat ini menerapkan pembelajaran daring, pihak sekolah diimbau untuk mempertegas kepada para orang tua siswanya agar anak-anaknya diam di rumah karena pembelajaran daring dan tidak ikut demo,“ jelasnya.

Ia menduga, keterlibatan belasan pelajar SMP dalam aksi menolak kenaikan tunjangan DPR dan menyuarakan keadilan atas peristiwa tragis yang menimpa pengemudi ojol Affan Kurniawan tersebut, hanya karena ikut-ikutan saja.

“Mungkin karena ramai di media sosial, mereka hanya ikut-ikutan saja dalam demo. Jangan sampai mereka menjadi korban saat kericuhan terjadi. Makanya, ke depan sekolah-sekolah akan lebih melakukan pengawasan ketat agar kejadian serupa tidak terulang,“ pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan dari pihak kepolisian terkait keterlibat belasan pelajar dalam aksi unjuk rasa tersebut.

Diberitakan sebelumnya, Sejumlah sekolah di Kabupaten Cianjur menerapkan pembelajaran dalam jaringan (daring) alias kegiatan belajar mengajar yang dilakukan melalui internet tanpa tatap muka langsung. Hal ini mengantisipasi adanya aksi unjuk rasa susulan.

Seperti diketahui, di Cianjur, aksi unjuk rasa ribuan massa yang terdiri dari gabungan pengemudi ojek online (ojol), pelajar, mahasiswa, buruh, dan elemen masyarakat lainnya terjadi pada Sabtu (30/8/2025).

Aksi menolak kenaikan tunjangan DPR dan menyuarakan keadilan atas peristiwa tragis yang menimpa pengemudi ojol Affan Kurniawan tersebut berujung ricuh. Massa dan aparat terlibat bentrok.

Kepala Bidang SMP Disdikpora Cianjur, Helmi Halimudin, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum mengeluarkan kebijakan pembelajaran daring. Namun ia membenarkan adanya sejumlah sekolah yang mengambil kebijakan tersebut atas dasar kekhawatiran dan permintaan dari para orang tua siswa.

“Kalau dari Disdikpora untuk sementara masih menerapkan kegiatan belajar mengajar normal. Namun untuk sekolah terutama yang berada di Jalan Abdullah bin Nuh dan dr. Muwardi (By Pass), memang ada beberapa yang menerapkan daring, itu karena permintaan dari para orang tua siswanya,“ ujarnya saat dihubungi beritacianjur.com, Minggu (31/8/2025).(gil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *