Demi Bisa Sekolah, Siswa SDN Budisetra dan SDN Ciawitali di Agrabinta Rela Tempuh Jalur Ekstrem dengan Berjalan Kaki

BERITACIANJUR.COM – Perjuangan para siswa SDN Budisetra dan SDN Ciawitali yang berada di Desa Bojongkaso, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur untuk menuntut ilmu wajib diapresiasi.

Pasalnya, jarak tempuh mayoritas siswa dari rumah menuju sekolah cukup jauh dan harus melewati jalur yang ekstrem.

Tak ada kendaraan yang bisa mengantar mereka ke sekolah, semuanya mereka lewati dengan berjalan kaki sejauh 3-4 kilometer setiap harinya atau kurang lebih 45 menit jarak dari rumah menuju sekolah.

Hal tersebut membuat para siswa harus datang lebih awal sebelum pelajaran dimulai tepat pada pukul 07.00 Wib.

20240513 092246 scaled
Para siswa SDN Ciawatali terpaksa belajar di bawah tenda darurat, akibat ruangan kelas ambruk

“Ke sekolah jalan kaki, lewat jalan yang menanjak. Kalau musim hujan lebih susah karena jalan licin, jadi kadang dilepas dulu sepatunya. Dipakai lagi sepatu setelah sampai sekolah,” ujar Amelia, salah seorang siswa SDN Budisetra, Selasa (14/5/2024).

Di sekolah, Amelia dan semua siswa lainnya kembali dihadapkan dengan kondisi yang lebih memprihatinkan. Karena, bangunan kelas tempatnya belajar rusak dan ambruk.

Ia pun harus belajar di bawah tenda terpal yang dibangun secara darurat oleh pihak sekolah dan orang tua agar kegiatan belajar bisa tetap dilakukan.

“Sedih banget. Datang ke sekolah belajarnya tidak di kelas tapi di tenda. Panas kalau menjelang siang. Inginnya seperti di sekolah lain yang bisa belajar nyaman di kelas, teduh,” ungkapnya.

Namun demikian, Amelia mengaku tetap semangat untuk pergi sekolah dan mengenyam pendidikan walau apapun kondisinya.

“Tetap semangat, setelah lulus ingin lanjut ke SMP dan SMA. Ingin juga bisa kuliah,” ucapnya.

Terpisah, salah seorang guru SDN Ciawitali, Suhendi mengatakan, semangat siswa di sekolahnya juga sangat tinggi meski dengan segala keterbatasan.

“Kalau musim panas mereka rela berjalan jauh untuk belajar. Kalau musim hujan kemarin, kegiatan belajar mengajar digelar di rumah guru. Kalau ke sekolah khawatir, jalannya kan ekstrem,” terangnya.

Suhendi berharap, semangat siswa untuk mengenyam pendidikan tinggi bisa didukung dengan sarana dan prasarana gedung sekolah yang memadai.

“Semoga segera ada perbaikan gedung sekolah supaya siswa bisa lebih nyaman belajar,” tandasnya.(gil/gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *