BERITACIANJUR.COM – Indonesia darurat, Cianjur melarat, PMII menggugat. Itulah kalimat yang digaungkan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cianjur saat membawa aspirasi masyarakat ke Gedung DPRD Cianjur.
Koordinator Lapangan Aksi, Fauzi Rohmat, mengatakan kalimat “Indonesia darurat, Cianjur melarat, PMII menggugat” menjadi tajuk saat aksi yang dihelat pada Senin (15/6/2026) lalu.
“Massa aksi menampilkan seni visual dan teatrikal sebagai bentuk ekspresi kritik terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin menjauh dari cita-cita kesejahteraan rakyat,” ujarnya Selasa (16/6/2026).
Salah satu simbol yang ditampilkan, sambung dia, adalah replika kuburan Prabowo-Gibran yang bukan ditujukan sebagai serangan personal, melainkan sebagai representasi matinya hati nurani pemerintah terhadap penderitaan rakyat.
Menurutnya, di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok, kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil, serta berbagai persoalan kebangsaan yang belum terselesaikan, pemerintah dinilai semakin abai terhadap suara rakyat.
“Simbol kuburan tersebut menjadi pesan bahwa harapan masyarakat terhadap keberpihakan negara perlahan terkubur oleh kebijakan yang tidak menjawab kebutuhan rakyat,” ungkapnya.
Dalam aksi tersebut, PMII Cianjur menyampaikan lima tuntutan, antara lain menolak kenaikan harga BBM, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membebani APBN dan berpotensi menjadi ruang korupsi sistematis, mendesak pemerintah mengambil langkah strategis menjaga stabilitas nilai rupiah dan ketahanan ekonomi nasional.
“Selain itu kami juga mendesak agar pemerintah menghentikan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang dinilai mangkrak dan tidak menjawab kebutuhan rakyat, serta menolak dwifungsi TNI-POLRI demi menjaga supremasi sipil dan demokrasi,” sebutnya.
Usai menyampaikan aspirasi, massa aksi melakukan dialog dengan pimpinan DPRD Kabupaten Cianjur. Namun, PMII Cianjur menyatakan kekecewaannya terhadap sikap pimpinan DPRD Cianjur yang dinilai tidak konsisten terhadap hasil dialog.
Fauzi menyebut pimpinan DPRD Cianjur sempat menyatakan kesediaannya menerima aspirasi dan menyampaikan sikap atas tuntutan yang diajukan. Namun, saat diminta menandatangani pernyataan sikap sebagai bentuk komitmen, Ketua DPRD justru menolak dan meninggalkan lokasi aksi.
”Kami kecewa terhadap sikap pimpinan DPRD Cianjur yang tidak sesuai dengan kesepakatan saat dialog. Ketika komitmen itu hendak dituangkan dalam bentuk tertulis, beliau justru menolak menandatangani dan meninggalkan massa aksi. Ini menunjukkan tidak adanya keseriusan dalam merespons aspirasi rakyat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PC PMII Cianjur, Nur Alim Abdul Gani, menegaskan bahwa mahasiswa hadir untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan sekadar melakukan aksi simbolik.
”Kami datang membawa aspirasi masyarakat dan berharap DPRD sebagai representasi rakyat menunjukkan komitmen yang nyata. Sangat disayangkan ketika ruang dialog yang telah dibangun tidak menghasilkan keberanian untuk menyatakan sikap secara tertulis,” terangnya.
Ia menegaskan, PMII Cianjur akan terus mengawal seluruh tuntutan yang telah disampaikan. “Atas kekecewaan terhadap sikap Ketua DPRD Kabupaten Cianjur yang dinilai mengingkari komitmen hasil dialog, PMII Cianjur siap menggelorakan perlawanan jilid II sebagai bentuk tekanan moral dan perjuangan lanjutan hingga aspirasi rakyat mendapat respons yang nyata,” pungkasnya.(gil)










