oleh

Jabatan Ibang Sang TKS ‘Sakti” Menjadi Komisaris BUMD Disoroti

BERITACIANJUR.COM – TAK hanya soal rangkap jabatan, kekayaan dan pengaruhnya yang kuat saja yang ramai diperbincangkan, kini jabatan seorang tenaga kerja sukarela (TKS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur bernama Muhamad Solih alias Ibang yang menjabat sebagai Komisaris BUMD Lembaga Keuangan Mikro Akhlakul Karimah, dipertanyakan.

Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik, Cianjur Riset Center (CRC), Anton Ramadhan menyoroti proses uji kelayakan dan kepatutan (UKK) Ibang sehingga bisa menjabat sebagai komisaris di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Ia menjelaskan, berdasarkan Permendagri Nomor 37 Tahun 2018 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota Dewan Pengawas atau Anggota Komisaris dan Anggota Direksi BUMD, untuk menjadi komisaris tidak bisa sembarangan dan wajib menempuh proses UKK.

Pada pasal 6, untuk dapat diangkat sebagai anggota dewan pengawas atau anggota komisaris memenuhi syarat sebagai berikut:
a) Sehat jasmani dan rohani
b) Memiliki keahlian, integritas, kepemimpinan, pengalaman, jujur, perilaku yang baik. dan dedikasi yang tinggi untuk memajukan dan mengembangkan perusahaan
c) Memahami penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
d) Memahami manajemen perusahaan yang berkaitan dengan salah satu fungsi manajemen
e) Menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya
f) Beijazah paling rendah S-l (strata satu)
g) Berusia pating tinggi 60 (enam pul.uh) tahun pada saat mendaftar pertama kali;
h) Tidak pernah dinyatakan pailit
i) Tidak pernah menjadi anggota Direksi, Dewan Pengawas, atau komisaris yang dinyatakan bersalah menyebabkan badan usaha yang dipirnpin dinvatakan pailit
j) Tidak sedang menjalani sanksi pidana
k) Tidak sedang menjadi pengurus partai politik, calon kepala daerah atau calon wakil kepala daerah, dan/atau calon anggota legislatif.

“Pertanyaannya, apakah Ibang sudah menempuh proses UKK sesuai aturan dan sudah memenuhi kriteria menjadi komisaris? Jangan sampai penunjukannya ini atas dasar kedekatan dengan Bupati Cianjur atau karena pernah punya jasa pribadi kepada Bupati Cianjur,” ujarnya kepada beritacianjur.com, Jumat (13/5/2022).

Tak hanya UKK, Anton juga menyoroti soal komposisi di BUMD Lembaga Keuangan Mikro Akhlakul Karimah. Berdasarkan Permendagri Nomor 37 Tahun 2018, tepatnya pasal 17 menetapan komposisi anggota dewan pengawas atau anggota komisaris.

Pada poin d disebutkan, BUMD dengan jumlah anggota dewan pengawas atau anggota komisaris sebanyak 4 orang, terdiri atas satu orang pejabat pemerintah pusat, 2 orang pejabat pemerintah daerah, dan satu orang unsur independen.

“Nah, Ibang masuk pada komposisi mana? Pejabat kah atau unsur independen? Atau karena dekat dengan bupati? Ini harus diusut tuntas. Bukan karena persoalan jabatan di BUMD saja, namun kabar yang beredar Ibang ini juga memiliki pengaruh besar terhadap pengambilan kebijakan bupati. Wajib diusut tuntas,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, misteri ‘kesaktian’ seorang tenaga kerja sukarela (TKS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur bernama Muhamad Solih yang karib disapa Ibang, masih belum terungkap.

Selain soal rangkap jabatan, sejumlah kalangan juga bertanya-tanya, kesaktian apa yang dimiliki Ibang hingga dikabarkan dirinya bisa memengaruhi kebijakan yang dikeluarkan Bupati Cianjur, Herman Suherman meski ia hanya seorang honorer?

Sebelumnya, nama Ibang mencuat karena diduga memiliki tiga jabatan di tiga instansi berbeda. Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain masih menjabat sebagai Sekretaris Pribadi Bupati Cianjur, Ibang juga dikabarkan masih menjabat sebagai Komisaris Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Lembaga Keuangan Mikro Akhlakul Karimah. Padahal awalnya ia menjadi seorang TKS di RSUD Sayang Cianjur.

Saaat dikonfirmasi, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumder Daya Manusia (BKPSDM) Cianjur, Dadan Ginanjar menjelaskan, saat ini Ibang sudah tidak menjadi honorer di RSUD Sayang dan tercatat menjadi TKS di Bagian Umum dan Keuangan Setda Cianjur serta menjadi Komisaris LKM Akhlaqul Karimar hasil dari RUPS.

“Pak Ibang mah bukan ASN kang tapi TKS di Bagian Umum Setda. Saya sudah konfirmasi ke Setda. Di RSUD sudah tidak tapi betul Pak Ibang jadi Komisaris LKM Akhlaqul Karimar hasil dari RUPS,” ujarnya saat dihubungi beritacianjur.com belum lama ini.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kepala Bagian Umum dan Keuangan Setda Cianjur, Dony Herdiana. Ia mengaku tidak mengetahui terkait Ibang yang memiliki SK atau jabatan di instansi lain. “Iya betul Pak Ibang TKS di Bagian Umum sebagai Sekretaris Pribadi Bupati Cianjur,” jelasnya.

Informasi tersebut juga sesuai dengan pengakuan Ibang. Seperti dikutip beritacianjur.com dari maharnews.com, Ibang mengaku awalnya ia bekerja di RSUD Sayang Cianjur lalu diperbantukan juga sebagai sekpri Bupati Cianjur.

“Ikut dengan Bapak (Bupati) tuh semenjak beliau jadi wabup. Pertama jadi sekpri wabup kemudian Alhamdulillah Bapak jadi bupati, ya saya jadi sekpri bupati,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik, Cianjur Riset Center (CRC), Anton Ramadhan tak hanya menyoroti terkait rangkap jabatan, namun juga mengungkap soal ‘kesaktian’, kekayaan serta pengaruh Ibang terhadap Bupati dan para pejabat di lingkungan Pemkab Cianjur.

“Jangan hanya menyoroti soal rangkap jabatannya saja, namun lihat hal lainnya yang sangat luar biasa yang bisa dimilki oleh seorang honorer. Ini patut dipertanyakan karena di luar kewajaran. Ada hubungan apa Ibang dengan Bupati? Kalau melihat peran dan pengaruhnya di Pemkab Cianjur, bisa diistilahkan honorer rasa bupati,” ungkapnya.

Berikut sejumlah ‘kesaktian’ Ibang Sang Honorer Rasa Bupati versi CRC:

  1. Memiliki tiga jabatan di 3 instansi yang berbeda, yakni bekerja di RSUD Sayang Cianjur, Sekpri Bupati Cianjur serta menjadi Komisaris BUMD Lembaga Keuangan Mikro Akhlakul Karimah. Informasi terbaru dari BKPSDM Cianjur, jabatan di RSUD Sayang Cianjur sudah dilepas.
  2. Memiliki rumah mewah di kawasan elit perkotaan Cianjur. Di perumahan tersebut, kediaman Ibang berdekatan dengan rumah milik Bupati Cianjur, Herman Suherman dan kediaman mantan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh. Pejabat lainnya yang memiliki rumah di sana antara lain, Sekda Cianjur, Cecep Alamsyah; Mantan Dirut RSUD Sayang Cianjur, Ratu; Dirut Perumdam Tirta Mukti, Budi Karyawan; serta sejumlah pejabat eselon II lainnya.
  3. Informasi yang diperoleh CRC dari berbagai sumber, meski hanya honorer, Ibang memiliki pengaruh kuat dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan Bupati Cianjur. Bahkan dugaan kuatnya, setiap pejabat yang bakal dilantik atau dipromosikan untuk jabatan barunya, sang pejabat seringkali harus menemui ibang terlebih dahulu.
  4. Dugaan kuat lainnya, Ibang memiliki pengaruh kuat dan sangat dekat dengan bupati dikarenakan memiliki ilmu spiritual. Alhasil, kabar yang beredar selain menjadi sekretaris pribadi, Ibang juga menjadi penasehat spiritual bupati.
  5. CRC menegaskan, semua informasi dan dugaan tersebut seharusnya ditanggapi oleh Bupati Cianjur, Herman Suherman. Orang nomor satu di Cianjur tersebut wajib memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya.(gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.