Pentas Teater Monolog Sang Pelopor Pers Indonesia Warnai Pelantikan Pengurus PWI Cianjur

BERITACIANJUR.COM – Pementasan teater ‘Monolog Tirto’, sang pelopor Pers di Indonesia, mewarnai acara pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cianjur masa bakti 2025-2028 di Hotel Cianjur, Senin (5/5/2025).

Bukan hanya sekadar seremonial. Moch Ihsan yang sudah resmi dilantik menjadi Ketua PWI Cianjur menyampaikan, pentas monolog merefleksikan kembali peran penting Tirto Adhi Soerjo yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Cianjur melalui surat kabar Soenda Berita.

“Suguhan tersebut juga sesuai dengan tema yang diusung, yakni “Bersama Menjaga Marwah”. Semangat dan idealisme Tirto dalam memperjuangkan kebenaran dan mencerdaskan bangsa melalui pers harus terus kita teladani,” ujarnya, Selasa (6/5/2025)

Sekadar Informasi, pria yang memiliki nama lengkap Raden Mas Tirto Adhi Soejo merupakan tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional. Tirto memang kelahiran Blora, Jawa Tengah pada 1880, namun erat kaitannya dengan Cianjur. Di saat mendirikan Soenda Berita pada 1903, ia mendapatkan dukungan dari Bupati Cianjur saat itu, R.A.A. Prawiradiredja.

Pada acara pelantikan kemarin, Bupati Cianjur, dr. Mohammad Wahyu Ferdian bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Cianjur turut menghadiri.

Sementara itu, Ketua PWI Jawa Barat, Hilman Hidayat menegaskan, pengurus PWI Cianjur yang baru dilantik merupakan hasil dari konferensi alias murni melalui proses demokrasi, dan bukan hasil dari pemikiran sepihak.

“Semua melalui proses demokrasi. Pelantikan ini merupakan mekanisme organisasi. Pesannya, mereka harus tetap menjalankan amanat dari sumpahnya itu,“ tegasnya.

Selain terkait pelantikan, ia juga menyoroti isu krusial yang tengah menghantui dunia jurnalistik, yakni soal maraknya oknum yang mengaku sebagai wartawan tanpa memiliki tanggung jawab profesional.

“Kita mengingatkan agar masyarakat dan lembaga berhati-hati dalam membedakan antara wartawan profesional dan oknum yang hanya mengatasnamakan profesi jurnalis,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Hilman juga menyinggung soal masalah internal yang terjadi di PWI pusat yang berdampak langsung ke daerah, salah satunya muncul kepengurusan tandingan atau yang disebutnya PWI bayangan.

“Organisasi PWI itu satu, jangan sampai terpecah orang segelintir orang. Masalah di pusat jangan sampai mengorbankan perjuangan kita di daerah,“ tandasnya.

Ia berharap, konflik internal di PWI pusat bisa segera tuntas melalui jalan rekonsiliasi demi menjaga marwah organisasi serta keberlangsungan profesi wartawan di seluruh Indonesia.(gil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *