oleh

Rangkap Jabatannya Langgeng, TKS Bernama Ibang Lebih ‘Sakti’ dari Ketua Baznas Cianjur

BERITACIANJUR.COM – Nama seorang tenaga kerja sukarela (TKS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur bernama Muhamad Solih yang karib disapa Ibang, kembali mencuat. Bukan karena mendapatkan sebuah penghargaan, namun hingga saat ini ia diduga memiliki tiga jabatan di 3 tiga instansi berbeda. Benarkah?

Berdasarkan informasi yang dihimpun, selain masih menjabat sebagai Sekretaris Pribadi Bupati Cianjur, Ibang juga dikabarkan masih menjabat sebagai Komisaris BUMD Lembaga Keuangan Mikro Akhlakul Karimah. Padahal awalnya ia menjadi seorang TKS di RSUD Sayang Cianjur.

Muhamad Solih alias Ibang

Ibang disebut-sebut lebih ‘sakti’ dibanding Ketua Baznas Cianjur, Tata karena nasibnya yang berbeda. Ketika Tata ramai diberitakan soal rangkap jabatan, jabatannya di RSUD Sayang Cianjur sebagai dewan pengawas langsung dicopot dan kini hanya menjabat sebagai Ketua Baznas Cianjur dikarenakan rangkap jabatan menyalahi aturan. Beda dengan Ibang, hingga saat ini ia diduga masih memiliki 3 jabatan yang bukan jabatan ecek-ecek.

Hal tersebut dibenarkan Direktur Pusat Kajian Kebijakan Publik, Cianjur Riset Center (CRC), Anton Ramadhan. Menurutnya hal tersebut sudah menjadi rahasia umum karena sejumlah informasinya pernah ramai diberitakan sejumlah media.

“Soal jabatannya sebagai sekpri pernah langsung dibenarkan Bupati Cianjur saat diwawancara wartawan. Soal ia menjabat sebagai komisaris di LKM juga pernah dibenarkan pegawai di Setda Cianjur. Termasuk soal awalnya ia hanya seorang TKS di RSUD Cianjur, informasi itu juga sudah pernah ramai diberitakan,” ujarnya saat dihubungi beritacianjur.com, Sabtu (23/4/2022).

Anton menegaskan, Bupati Cianjur maupun instansi terkait wajib segera memberikan penjelasan terkait permasalahan ini, dikarenakan rangkap jabatan sudah jelas menyalahi aturan. Jika benar tiga jabatan ini dibiarkan begitu saja, sambung Anton, Ibang tak hanya lebih ‘sakti’ dari Ketua Baznas Cianjur, namun malah lebih hebat dari Wakil Bupati Cianjur, TB Mulyana Syahrudin.

“Kita tahu, ketika dugaan keretakan antara Bupati dan Wakil Bupati Cianjur menguat, Wakil Bupati Cianjur ini seolah hilang pengaruhnya. Beda dengan Ibang yang memiliki pengaruh kuat dan dikabarkan bisa memengaruhi kebijakan yang dikeluarkan Bupati Cianjur,” terangnya.

Untuk memastikan kebenarannya, wartawan mencoba mengonfirmasi langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Cianjur, Cecep Alamsyah. Namun ia tak berkomentar banyak dan hanya menyatakan akan mengecek kebenarannya terlebih dahulu dan mengecek regulasi.

“Kalau tidak salah mah itu betul, tapi nanti saya lihat dulu aturannya,” ucapnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, bukan tenaga kerja spiritual, tapi kepanjangan dari TKS yang sebenarnya adalah tenaga kerja sukarela yang merupakan program dari Kementerian Tenaga Kerja. Meski sukarela, namun para TKS juga mendapatkan honor.

Nah, di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur, ada seorang TKS yang disebut Bupati Cianjur, Herman Suherman sebagai sekdisnya. Sekdis merupakan kepanjangan dari sekretaris dinas.

Seorang TKS tersebut bernama Muhamad Solih atau yang karib disapa Ibang. Ucapan bahwa Ibang merupakan sekdis disampaikan langsung Herman usai acara pelantikan tiga pejabat tinggi pratama di Pendopo Cianjur, beberapa waktu lalu.

“Itu (Ibang, red) kan itu, sekretaris, sekdis saya,” ucapnya singkat. TKS tapi jabatannya sekdis atau pejabat setingkat eselon III, apakah bisa?

Pertanyaan tersebut terjawab ketika Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD), Dadan Ginanjar menjelaskan, Ibang merupakan TKS di Sekretariat Daerah (Setda) Cianjur. Berdasarkan surat tugas dari Kepala Bagian Umum, sambung dia, Ibang bertugas sebagai Sekretaris Pribadi (Sekpri) Bupati Cianjur.

Namun berdasarkan informasi yang diperoleh Direktur CRC, Anton Ramadhan, Ibang merupakan TKS di RSUD Sayang Cianjur. Lalu mana yang benar? Sekdis, sekpri atau TKS di RSUD Sayang?

“Informasi yang saya peroleh ini, bukan dari luar Pemkab Cianjur, namun dari sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Cianjur sendiri. Kalau tidak salah, beliau TKS di RSUD Sayang bagian humas. Jadi media harus menelusuri kebenarannya,” ujarnya kepada beritacianjur.com, beberapa waktu lalu.

Alasan Anton bahwa media harus memastikan kebenarannya karena terdapat sejumlah keanehan atau kehebatan yang dimiliki seorang TKS tersebut. Ia mengklaim mendapatkan informasi dari beberapa sumber, meski hanya TKS, namun Ibang memiliki pengaruh kuat dalam sejumlah keputusan yang diambil Bupati Cianjur.

“Kebenaran ini harus ditelusuri dan dipastikan oleh media-media. Biar kita juga bisa memberikan masukan kepada Bupati Cianjur. Jika yang bersangkutan seorang guru, berikan tugas mengajar. Jika seorang ahli agama atau ahli spiritual, berikan tugas sesuai bidangnya atau bisa dimohon untuk mendoakan untuk kemajuan Cianjur. Intinya harus sesuai kapasitas dan jangan sampai over lap,” tegasnya.

Alasan kedua mengapa Anton berpikir bahwa media harus menelusurinya, karena ia juga memperoleh kabar, meski hanya seorang TKS namun setiap pejabat yang bakal dilantik atau dipromosikan untuk jabatan barunya, sang pejabat seringkali harus menemui Ibang terlebih dahulu.

“Ini harus dikonfirmasi lagi ke Pak Bupati dan Pak Ibang langsung. Selain itu juga tanyakan ke BKD, agar tahu jabatan yang sebenarnya apa. Ini demi kejelasan informasi dan agar tidak simpang siur. Masalahnya, tak hanya sekadar persoalan pejabat yang mau dilantik, namun informasi yang beredar, Ibang juga memiliki pengaruh kuat lainnya dalam hal pengambilan kebijakan,” pungkasnya.(gie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.