Ruang Kelas Rusak-Ambruk, Puluhan Siswa SD di Agrabinta Terpaksa Belajar di Tenda Terpal, Begini Kondisinya

BERITACIANJUR.COM – Puluhan siswa di dua SD di Desa Bojongkaso, Kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur terpaksa belajar di bawah tenda terpal.

Saat beritacianjur.com mengunjungi lokasi, terpantau kegiatan belajar mengajar di SD tersebut sangat memperihatinkan.

Mereka melakukan kegiatan pembelajaran di halaman terbuka dengan atap yang ditutupi oleh tenda. Namun, terik matahari tetap bisa menembus ruangan tersebut, sehingga membuat para siswa tidak nyaman.

Sekolah tempat para siswa itu belajar yakni SDN Ciawitali dan SDN Budisetra yang lokasinya berada di pelosok Cianjur, sekitar 158 kilometer dari pusat kota Cianjur dengan waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan.

SDN Ciawitali yang asalnya memiliki empat ruang kelas, kini hanya tersisa satu bangunan kecil berukuran sekitar 4×5 meter dengan kondisi yang sudah tidak layak.

Sedangkan untuk tiga ruang kelas lainnya sudah hancur dan rata dengan tanah. Sekolah yang didirikan sejak 1979 itu, belum pernah direnovasi membuat struktur bangunan tak lagi mampu bertahan.

20240513 091325 scaled
Kondisi bangunan ruang kelas SDN Ciawitali yang ambruk

Ruangan kelas terakhir yang sempat digunakan siswa belajar pun ambruk dua pekan lalu. Beruntung, ambruk terjadi pada saat seluruh siswa sudah pulang.

Kepala SDN Ciawitali dan SDN Budisetra, Suherman mengatakan, demi pembelajaran dapat terus berlangsung, pihak orang tua siswa dan guru membangun sebuah tenda untuk dijadikan tempat sebagai ruangan kelas.

Sehingga, siswa dan guru di sekolah tersebut, terpaksa harus melakukan kegiatan pembelajaran di sebuah tenda yang dibangun di halaman bangunan sekolah yang roboh.

“Ya, saat ini terpaksa kegiatan pembelajaran di lakukan di kondisi seperti ini, karena sudah tidak ada kelas yang bisa di pakai,” ujar Suherman kepada wartawan, Senin (13/5/2024).

“Daripada siswa tidak bisa belajar, dibuat terpal ini. Apalagi kan kelas 6 sedang ujian akhir semester, jadinya kita dirikan tenda sementara,” tambahnya.

Apabila hujan, sambungnya, mereka terpaksa harus dipindahkan ke rumah salah seorang guru untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran.

“Kalau hujan tidak mungkin belajarnya di kondisi seperti itu, karena cuman tertutup oleh terpal. Makanya terpaksa harus dipindahkan ke rumah guru,” ucapnya.

Kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga terlihat di SDN Budisetra, di mana tiga ruang kelas alami kerusakan yang parah.

Kayu penyangga atap sekolah yang didirikan pada 1992 itu pun sudah patah dan sewaktu-waktu dapat ambruk.

Dinding ruang kelas juga banyak yang retak hingga bolong. Ditambah lantai kelas yang bukan lagi keramik, melainkan ditumpuk oleh tanah.

Akibatnya, para siswa di dua sekolah ini terpaksa belajar di bawah tenda darurat. Siswa SDN Ciawitali belajar di bawah terpal di tengah reruntuhan kelas sedangkan siswa SDN Budisetra belajar di bawah tenda terpal yang dibangun di tengah lapang.

Screenshot 20240515 120812 Video Player
Siswa SD di Pelosok Cianjur terpaksa belajar di tenda karena bangunan roboh

Suherman menjelaskan, kedua sekolah tersebut memang sudah rusak parah dan belum mendapat perbaikan.

“Dari dulu belum ada perbaikan. Kalau SDN Budisetra bangunannya retak sehingga sudah tidak memungkinkan untuk belajar. Kalau SDN Ciawitali memang bangunannya sudah ambruk seluruhnya,” paparnya.

Bahkan, pejabat pendidikan yang membawahi dua sekolah ini terpaksa membangun tenda darurat dari hasil kredit terpal untuk para siswa belajar.

“Terpal ini saya beli dengan cara kredit. Dibayar per bulan selama tiga bulan. Karena memang tidak ada anggarannya,” ungkapnya.

Suherman mengaku dirinya sudah sering mengajukan perbaikan dan pembangunan ulang sekolah, namun belum ada kabar akan dibangun.

“Kalau mengajukan sudah sering. Tapi masih menunggu kabar apakah masuk anggarannya atau belum. Minimalnya dua ruang kelas agar siswa bisa belajar. Karena siswanya juga tidak banyak, untuk SDN Budisetra hanya 37 siswa dan SDN Ciawitali hanya 27 siswa,” tuturnya.

Usman, salah seorang guru SDN Budisetra, menuturkan, keberadaan sekolah tersebut sangat dibutuhkan. Pasalnya, dengan adanya sekolah tersebut tidak ada anak yang putus sekolah.

“Kalau tidak ada sekolah ini akan banyak anak yang putus sekolah. Sekolah ini sangat vital dan memberantas buta huruf di pelosok. Kami harap segera diperbaiki bangunannya,” imbuhnya.

Selain itu, rintangan bagi para siswa ditambah dengan akses menuju kedua sekolah itupun begitu ekstrem dengan jalan penuh bebatuan dan terjal.

“Untuk sampai ke SDN Ciawitali terdapat beberapa tanjakan yang dipenuhi rumput liar. Bahkan jika ingin menuju SDN Budisetra kita harus melalui jalanan menanjak dari batu cadas yang licin,” imbuhnya.

Jalur ekstrem itu yang setiap harinya dilalui para siswa untuk bersekolah. Tanpa menggunakan kendaraan, para siswa ini berjalan kaki dari rumah menuju sekolah menyusuri jalan yang dikelilingi hutan serta lereng gunung.

Senada, orang tua siswa, Sani mengaku prihatin dengan kondisi sekolah tempat anaknya belajar yakni di SDN Budisetra. Apalagi kini siswa terpaksa belajar di bawah tenda darurat.

“Sedih kalau lihat anak-anak belajar di tenda, apalagi cuaca kan sedang panas. Kemarin juga ada yang sampai sakit siswanya. SDN Ciawitali juga kan dulu tempat saya sekolah, kondisinya lebih parah lagi,” ucapnya.

Dia berharap bangunan sekolah tersebut diperbaiki agar siswa bisa belajar dengan nyaman.

“Kami orang tua tentu berharap segera dibangun, kasian anak-anak. Jangan sampai semangat belajar mereka luntur dengan kondisi sekolah yang seperti ini,” tutupnya.(gil/gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *