Satu Keluarga di Karangtengah Alami Gangguan Jiwa, Puskesmas Intensif Lakukan Pendampingan 

BERITACIANJUR.COM – Satu keluarga di Kampung Sabandar Kidul, RW 03/RT 02, Desa Sabandar, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Berdasarkan informasi, empat orang tersebut yakni Asep Saepuloh (38), Rizki Nurpalah (33), Ai Yulianti (40), serta satu orang yang baru terindikasi tiga bulan terakhir, yakni anak Ai, Resa Armelia (20).

Pihak Puskesmas Karangtengah pun terus berupaya melakukan pendampingan secara intensif terhadap pasien dengan rutin memberikan obat-obatan.

“Alhamdulillah empat orang ini ada progres. Secara mental lebih tenang, tidak banyak mengurung diri, dan sudah mulai berinteraksi sosial di lingkungan rumah. Meski belum maksimal, ini jadi kemajuan yang cukup baik,” ujar Kepala Puskesmas Karangtengah, Yudiansyah saat melakukan kunjungan ke rumah pasien, Sabtu (6/9/2025).

“Kita lanjutkan pemberian obat selama sepuluh hari ke depan. Insyaallah setelah sepuluh hari kita kunjungi lagi, mudah-mudahan kondisinya bisa lebih baik lagi,” ungkapnya.

Menurutnya, empat pasien tersebut belum direkomendasikan untuk menjalani perawatan di rumah sakit jiwa karena masih dapat ditangani puskesmas. “Mereka masih bisa ditanggulangi dengan obat dan pendampingan psikososial,” imbuhnya.

Terlebih, lanjutnya, pasien atas nama Resa Armelia menolak menjalani perawatan karena merasa dirinya tidak sakit. Padahal, sejak tiga bulan terakhir, ia mulai menunjukkan perubahan perilaku seperti sering mengurung diri, enggan bersosialisasi, hingga berhenti bekerja.

“Secara fisik memang sehat, tapi secara psikis ada perubahan signifikan. Dari keterangan keluarga, sejak putus dengan pacarnya, lalu pacarnya menikah dengan orang lain, Resa mengalami depresi. Namun untuk saat ini masih bisa ditangani di tingkat Puskesmas dengan dukungan keluarga dan kader kesehatan,” terangnya.

Satu Pasien Belum Punya BPJS Kesehatan

Yudiansyah mengungkapkan, dari empat pasien tersebut, tiga sudah tercatat sebagai peserta dan hanya ada perbaikan nama untuk Asep Saepuloh. Sedangkan Ai Yulianti belum memiliki BPJS karena belum memiliki kartu keluarga (KK).

“Untuk Bu Ai memang belum ada kepesertaan BPJS. Jadi kendala administrasi ini harus segera diurus, agar nantinya bila perlu perawatan di rumah sakit bisa ditanggung biayanya,” bebernya.

Menanggapi itu, Ketua RW 03, Cecep Suherman berjanji akan segera mengurus dokumen kependudukan warganya ke pemerintah desa agar bisa didaftarkan sebagai peserta BPJS.

“Saya akan ke desa untuk urus dulu KK-nya, supaya bisa dibuatkan BPJS. Karena kata Kepala Puskesmas, syaratnya harus ada KK dulu baru bisa didaftarkan, supaya kalau dibawa ke rumah sakit biayanya ditanggung,” jelas Cecep.

Cerita Awal Teridentifikasi Gangguan Jiwa

Di tempat terpisah, Yana Mulyana (47), tetangga korban, menceritakan awal mula keluarga tersebut mengalami gangguan jiwa. Peetama adalah Ai Yulianti (40) yang mengalami depresi setelah bercerai dengan suaminya beberapa tahun lalu.

“Pertama-tama sih dulunya normal. Cuma setelah pisah sama suaminya kurang lebih tujuh tahun lalu, setelah itu, sekitar enam bulan kemudian, mentalnya mulai terganggu,” ujar Yana pada wartawan.

Menurutnya, ada satu kejadian yang masih ia ingat, ketika Ai tiba-tiba ngamuk pada salah satu warga lantaran melihat suami tetangganya mirip mantan suaminya.

“Pernah suatu waktu Bu Ai marah-marah, katanya itu suami saya kenapa sama kamu? ya sempet heboh gitu lah. Padahal itu suami tetangga, tapi itu sudah lama sekali. Setelah itu tidak pernah membuat rusuh,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bukan hanya Ai, tapi dua adiknya, yakni Asep Saepuloh (38) dan Rizki Nurpalah (33), juga mengalami kondisi serupa. Sementara satu adik lainnya, Sandi Pauji (34), yang sempat membaik, meninggal dunia 10 hari yang lalu.

“Masyarakat juga tidak pernah membully, justru kasihan. Terkadang saya suka lihat bu Ai nongkrong di depan gitu, terus ke pasar pulang-pulang bawa buah busuk, sayur busuk, dan sampah dari pasar,” kisahnya.

“Harapan kami, segera dibawa ke rumah sakit jiwa. Dirawat jangan sampai dibuang. Jangan sampai berlarut-larut karena kasihan kondisi keluarga ini, dan segala macam hambatan kesulitan yang dialami keluarga yang sakit jiwa ini, diatasilah. Soalnya kan mereka ini ya keluarga yang kurang mampu, jadi yang mereka takutkan itu kalau dirawat di RSJ takutnya mengeluarkan biaya, kalau sampai mengeluarkan biaya mereka angkat tangan,” tandasnya.(gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *