BERITACIANJUR.COM – Video razia dan pemusnahan make-up di SMAN 1 Pacet mendadak viral di media sosial.
Dalam video yang diunggah akun @smansatupacet tersebut terlihat ratusan jenis makeup berbagai merek dan warna dimusnahkan oleh pihak guru langsung di hadapan para siswa yang tengah berada di lapangan sekolah.
Riuh dan sorakan dari para siswa pun menyertai aksi pemusnahan hasil razia sekolah tersebut.
Dalam keterangan video menjelaskan, aksi tegas tersebut dilakukan pihak sekolah untuk melindungi siswanya dari aksi bullying hingga pelecehan yang dapat dipicu dari make-up berlebihan.
Sontak, unggahan tersebut pun disukai lebih dari 21 ribu orang dan dikomentari lebih dari 2.400 orang dengan berbagai tanggapan positif dan negatif.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Humas SMAN 1 Pacet Angga Dita Noviana, mengatakan pihak sekolah memang sudah menetapkan larangan menggunakan atau membawa alat make-up sejak awal tahun ajaran baru.
“Kami sudah sampaikan pada saat SPMB dan MPLS Panca Waluya. Bahkan saat rapat orangtua, mereka sangat menyetujui aturan tersebut,” ujar Angga, Senin (26/10/2026).
Bahkan, lanjutnya, setiap pagi jelang masuk sekolah, para guru akan mengingatkan para siswa perempuan terkait larangan menggunakan make-up.
“Make-up yang berlebihan atau tebal akan dihapus menggunakan tisu basah/micellar water oleh kesiswaan,” ungkapnya.
“Sebelum penindakan yang viral juga kami seringkali razia, menyita alat make-upnya. Tapi saat itu langsung dikembalikan saat pulang sekolah atau diserahkan pada orangtua sambil memberikan kembali edukasi untuk tidak melakukan pelanggaran serupa,” tambahnya.
Ia menjelaskan, sosialisasi hingga penyitaan ternyata tidak membuat jera para pelanggar, akhirnya pihak sekolah secara tegas melakukan razia dan pemusnahan pada Jumat (23/10/2026) pagi.
“Sudah sering diingatkan dan dilakukan pembinaan, tapi tetap saja dibawa ke sekolah. Makanya kami lakukan razia hingga pemusnahan usai kegiatan salat dhuha pada Jumat pagi,” bebernya.
Alat make-up yang dimusnahkan, sambungnya, hanya yang dinilai berlebihan saja. Sedangkan bedak, handbody, dan sunscreen dikembalikan lagi pada pemiliknya.
“Kalau untuk alat make-up standar demi melindungi kulit diperkenankan. Makanya setelah razia kemarin langsung dikembalikan,” terangnya.
Memicu Bullying dan Pelecehan
Angga menegaskan, penindakan dan razia tersebut semata-mata sebagai upaya sekolah untuk melindungi siswa dari aksi bullying hingga pelecehan.
“Dengan make-up yang tebal, para siswi menjadi berpenampilan mencolok. Rentan ada yang cat calling, kemudian ada bully juga ketika make up-nya tebal, dan berpotensi mencari korban pelecehan. Makanya kami larang, kemudian lakukan tindakan ini demi melindungi siswi kami,” paparnya.
Selain razia make-up bagi siswa perempuan, sekolah juga menyasar tas para siswa laki-laki.
“Tentu tidak hanya tas milik siswa perempuan yang diperiksa, tapi tas siswa laki-laki juga kami cek. Untuk memastikan tidak ada barang yang dilarang, seperti rokok,” terangnya.
Angga menyadari, tindakan tersebut tidak populis yang bisa menuai tanggapan pro-kontra dari masyarakat.
“Kami sadar tindakan ini tidak populis, bahkan saat video diunggah di media sosial langsung menimbulkan beragam tanggapan. Tapi kami tegaskan, ini demi melindungi para siswa,” tandasnya.(gap)










