Cianjur Masuki Peralihan Musim, Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Ditetapkan Mulai 1 November 2026

BERITACIANJUR.COM – Memasuki fase peralihan ke musim kemarau menuju musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur mengimbau masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Cianjur, Samudra Wira Purnama, mengatakan hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Kabupaten Cianjur belum merata. Menurutnya, wilayah utara mulai sering diguyur hujan, sedangkan sejumlah wilayah selatan masih belum turun hujan.

“Secara keseluruhan wilayah Cianjur belum sepenuhnya merata diguyur hujan. Wilayah selatan, seperti Agrabinta, Sindangbarang, dan Cidaun, sebagian besar masih belum turun hujan, sementara wilayah utara sudah mulai sering dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi,” ujar Samudra kepada beritacianjur.com, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, berdasarkan kondisi cuaca saat ini, wilayah Cianjur, terutama bagian selatan, diperkirakan mulai memasuki musim hujan secara menyeluruh pada akhir Oktober 2026. Meski begitu, curah hujan yang masih berada pada kategori ringan hingga sedang dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah terdampak kekeringan secara optimal.

Samudra menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan masa siaga darurat bencana hidrometeorologi basah mulai 1 November 2026 hingga 30 April 2027. Kabupaten Cianjur akan mengikuti penetapan tersebut secara resmi setelah surat keputusan dari Pemprov Jabar diterbitkan.

“Untuk Cianjur sendiri, persiapan menghadapi peralihan musim ini telah ditindaklanjuti dengan menerbitkan surat imbauan pada 1 Oktober 2026 yang telah disebarkan ke seluruh camat agar diteruskan ke wilayah masing-masing,” katanya.

Dalam imbauan tersebut, lanjut Samudra, kepala desa dan lurah diminta menggerakkan masyarakat untuk membersihkan saluran air, selokan, gorong-gorong, serta sungai kecil dari sampah agar tidak terjadi penyumbatan yang dapat memicu banjir saat hujan turun.

Selain itu, sambung dia, pemangkasan atau penebangan pohon yang rapuh dan berisiko tumbang perlu dilakukan, terutama di jalur protokol dan wilayah kecamatan. Hal tersebut perlu diantisipasi karena hujan pada musim ini dapat disertai angin kencang, seperti yang pernah terjadi di Kecamatan Cianjur.

Samudra juga meminta pengawasan di area lereng perbukitan dan tebing yang sebelumnya pernah mengalami longsor ditingkatkan. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi longsor susulan sekaligus memberikan peringatan dini kepada warga yang tinggal di sekitar wilayah rawan bencana.

“Posko kesiapsiagaan di tingkat kecamatan dan desa juga perlu diaktifkan untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi cepat apabila terjadi bencana,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebanyak 360 Relawan Tangguh Bencana (Retana) yang tersebar di desa-desa diharapkan dapat dioptimalkan sebagai garda terdepan dalam mendeteksi potensi bencana di wilayah masing-masing.

Selain itu, menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi secara berkala mengenai tanda-tanda alam yang berpotensi mengarah pada bencana, seperti air sungai yang mendadak keruh, munculnya retakan tanah di perbukitan, serta hujan disertai angin yang tidak biasa.

Samudra menuturkan, sistem komunikasi di tingkat kecamatan dan desa juga harus dipastikan berjalan baik melalui radio komunikasi, grup WhatsApp, maupun saluran lainnya. Setiap kejadian bencana diminta segera dilaporkan kepada Pusdalops 112 BPBD agar dapat ditindaklanjuti.

Di sisi lain, penanganan dampak kekeringan masih menjadi perhatian pemerintah daerah. Samudra mengatakan Pemerintah Kabupaten Cianjur tengah berupaya mengajukan proposal kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan bantuan armada truk tangki air baru pada tahun depan.

“Saat ini curah hujan masih berada di kategori ringan hingga sedang, sehingga belum cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan secara optimal,” ungkapnya.

Sementara untuk penanganan jangka panjang, sambung dia, BPBD telah berkoordinasi dengan dinas terkait dan mengajukan pembangunan sumur bor serta jaringan pipanisasi kepada BNPB. Usulan tersebut disesuaikan dengan ketersediaan sumber mata air di masing-masing perkampungan warga.

Samudra menyebut potensi bencana yang perlu diwaspadai selama musim hujan meliputi banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang berpotensi terjadi di 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur.

Terkait kesiapan penanganan bencana, ia mengatakan BPBD telah menyiapkan peralatan, personel, dan logistik kebencanaan yang diperkirakan mencukupi untuk menghadapi potensi bencana dalam tiga bulan ke depan.

“Harapannya tentu kita semua berdoa agar tidak terjadi bencana besar dan situasi di Kabupaten Cianjur tetap aman serta terkendali,” pungkasnya.(zal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *