oleh

Dari Ribuan Ruang Karantina yang Tersebar, Hanya 7 Orang yang Gunakan Selebihnya Memilih Isolasi Mandiri

BERITACIANJUR.COM – Mayoritas pemudik yang lolos penyekatan memilih melakukan isolasi mandiri di rumah keluarga masing-masing di kampung halamannya.

Berdasarkan hasil sampling monitoring dan evaluasi hingga 15 Mei 2021 di 40 desa/kelurahan di 20 kota kabupaten di Jabar, dari 1.494 pemudik yang lolos, hanya 7 orang yang memilih melakukan isolasi mandiri di ruang karantina yang disiapkan oleh pemerintah desa/kelurahan di Jabar.

Selebihnya, 1.487 orang memilih untuk melakukan isolasi mandiri di rumah mereka masing-masing.

Untuk diketahui, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jabar mencatat jumlah Posko mudik tingkat desa sebanyak 13.523 dan Kelurahan sebanyak 2.789. Sementara Ruang Karantina di desa sebanyak 4.229 unit dan di kelurahan sebanyak 619 unit.

Kepala DPM Desa Jabar Bambang Tirtoyuliono mengatakan, meski ruang karantina selama musim mudik kemarin kurang dioptimalkan oleh pemudik yang lolos, namun bukan berarti mereka asal mengizinkan mereka melakukan isolasi mandiri di rumah keluarga pemudik.

Adapun salah satu syaratnya yaitu mereka harus menyertakan surat pengantar dan juga surat yang menyatakan bahwa mereka negatif dari Covid-19.

“Satgas Covid-19 tingkat desa/kelurahan bersama dengan petugas kesehatan memastikan dulu tempat isolasi mereka di rumah keluarga pemudik yang bersangkutan. Jika layak kami persilakan agar melakukan isolasi mandiri di sana tanpa harus menggunakan ruang karantina yang disediakan pemerintah desa/kelurahan,”ujar Bambang, Minggu 16 Mei 2021.

Sebaliknya, lanjut dia, jika tempat mereka tidak layak untuk dijadikan tempat isolasi maka pemudik menjalankan isolasi mandiri selama lima hari di ruang karantina yang telah disediakan.

“Kami juga ingatkan mereka pemudik yang isolasi mandiri untuk tidak berinteraksi dulu selama lima hari berturut-turut dan tidak ikut solat ied juga kalau belum lepas masa isolasi selama lima hari tersebut,”ujar dia.

Bambang menegaskan, ruang karantina yang disediakan merupakan bagian dari antisipasi membludaknya pemudik yang lolos penyekatan, sementara mereka tidak memiliki tempat yang layak untuk karantina.

Bambang pun mengatakan, hasil monev dari 20 kota kabupaten tersebut sebenarnya kuran representatif meski jika dihitung secara matematika jumlah pemudik relatif jauh lebih sedikit dari prediksi kebocoran yang mencapai 420.000 orang. Jika dari 40 desa/kelurahan didapat 1.500 pemudik yang lolos maka keseluruhan desa/kelurahan di Jabar terdapat 221.000 an orang pemudik yang lolos.

“itungan ini tidak bisa dipukul rata karena ini berupa sampling. Walaupun itu data bukan representasi tapi yang bisa diinformasikan bahwa upaya antisipasi pemerintah desa dan kelurahan cukup efektif,” ujar dia.

“Ternyata satgas di kelurahan dan desa tidak kenal waktu dia kerja. Sample dilakukan selama satu hari ini hari libur, ternyata mereka kerja kami apresiasi keluarahan dan desa tetap bertugas dalam rangka tekan covid. Semoga upaya kita semua secara holiostik dan kompehensif mampu menekan angka penyebaran covid di jabar pada umumnya,” ucap dia (bbs)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *