Mahasiswa KKN Unsur Gelar Resik Dusun di Sukaratu, Berikan Edukasi Pemilahan Sampah Organik dan Anorganik

BERITACIANJUR.COM – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur yang ditempatkan di Desa Sukaratu melaksanakan program kerja bertajuk Resik Dusun, Kamis (31/7/2025).

Kegiatan ini merupakan bagian dari program unggulan Desa Sehat, sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan warga Sukaratu.

Dalam acara tersebut, mahasiswa bersama warga memberikan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah organik dan anorganik secara tepat.

IMG 20250801 WA0140

Turut hadir dalam kegiatan ini perwakilan perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, ibu-ibu PKK, karang taruna, serta mahasiswa KKN Universitas Suryakancana.

Ketua KKN Desa Sukaratu, Fahmi Idrus, mengatakan kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial semata, tetapi didasari oleh keprihatinan terhadap kondisi kebersihan lingkungan.

“Kami melihat bahwa pengelolaan sampah di desa ini masih belum maksimal. Oleh karena itu, melalui kegiatan Risik Dusun ini, kami ingin mengajak warga untuk mulai memilah sampah dari rumah, membedakan mana sampah organik yang bisa dijadikan kompos, dan mana sampah anorganik yang bisa didaur ulang atau dikumpulkan di bank sampah,” ujar Fahmi.

IMG 20250801 WA0143

Ia menambahkan, edukasi seperti ini perlu terus dilakukan agar masyarakat terbiasa dan sadar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan kolektif.

“Harapan kami, kegiatan ini bisa menjadi pemicu semangat warga untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Karena lingkungan bersih adalah awal dari hidup sehat,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua RW 4 Desa Sukaratu, Eri Supardi membagikan pengalamannya terkait upaya pemilahan sampah di tingkat lokal.

“Pemilahan sampah di sini dilakukan bersama rekan-rekan pemuda, serta dibantu oleh pihak RT dan RW. Untuk sampah anorganik biasanya dilakukan pada hari Kamis, sedangkan hari Sabtu khusus untuk pemilahan sampah organik,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan teknis pelaksanaan pemilahan yang sudah berjalan di lingkungannya.

“Tempat pemilahan sampah dibagi menjadi dua titik. Sampah anorganik dikumpulkan di KRTA 3, sedangkan sampah organik di Ke RT-an 2. Kenapa dipisah? Karena sampah organik sering menimbulkan bau akibat pembusukan, jadi harus ditempatkan jauh dari permukiman warga,” paparnya penggerak lingkungan RW 4.

Meski demikian, ia mengakui bahwa kesadaran masyarakat belum sepenuhnya terbentuk. “Sebenarnya, edukasi tentang pemilahan sampah sudah sering kami lakukan. Tapi pada akhirnya semua kembali ke niat dan kesadaran masing-masing. Meskipun berbagai upaya telah kami lakukan, kalau tidak ada kemauan dari masyarakat, ya tetap sulit berjalan maksimal,” terangnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, lanjutnya, sinergi antara relawan lingkungan dan kader desa harus terus dibangun.

“Kami bersama rekan-rekan terus berusaha mengingatkan masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah. Selain itu, kami juga dibantu oleh kader dari desa dan kader lingkungan setempat untuk menyosialisasikan dan memantau kegiatan ini,” ungkapnya.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa pemilahan sampah bukan hanya sekadar rutinitas, tapi kebutuhan bersama.

“Kalau tidak ada pemilahan sampah, sebenarnya semua pihak yang dirugikan. Tidak ada yang diuntungkan. Makanya, saya pribadi, yang tinggal di wilayah RW 4 Desa Sukaratu, berinisiatif untuk mengelola dan memulai kegiatan pemilahan sampah ini agar bisa menjadi kebiasaan baik di lingkungan kami,” jelasnya.

“Warga pun menyambut baik kegiatan ini. Mereka berharap program serupa bisa terus berlanjut, tidak hanya selama masa KKN, tapi juga setelahnya dengan dukungan dari pemerintah desa dan lembaga terkait,” tandasnya.(Mahasiswa KKN Unsur Cianjur/gap)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *