oleh

RSUD Akui Ada Kerusakan, Ini Kata Tika Latifah yang Paparkan Permenkes

Beritacianjur.com – NAMA mantan anggota DPRD Cianjur sekaligus calon Kepala Desa Mekarsari Kecamatan Cianjur, Tika Latifah tengah banyak diperbincangkan di media sosial.

Betapa tidak, meski tengah sakit dan dirawat, namun Tika masih sempat-sempatnya mengamuk dan memikirkan nasib pasien lainnya, yang sudah 2 hari mengeluh tak ada ketersediaan air bersih di RSUD Cianjur.

Ya, hal itu terjadi ketika Tika dirawat di RSUD Cianjur sejakKamis (26/12/2019) lalu. Sementara peristiwa tak ada air di RSUD Cianjur diketahuinya terjadi pada Sabtu (28/12/2019) dan Minggu (29/12/2019).

Sayang, meski sudah bisa pulang ke rumah tinggalnya pada Senin (30/12/2019), namun kondisi kesehatannya masih belum pulih 100 persen. Alhasil, ia harus menunda niatnya untuk langsung mengadu dan mempertanyakan langsung ke pimpinan RSUD Cianjur.

“Sekelas RSUD Cianjur seharusnya bisa mengantisipasi agar kejadian tak ada ketersediaan air tidak terjadi. Kasian kan banyak pasien dan keluarganya yang menjadi korban,” ujarnya kepada beritacianjur.com, Senin (30/12/2019).

Tika menegaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2019 tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, rumah sakit kelas A dan B harus menyediakan air minimum 400 liter/tempat tidur/hari dan maksimum 450 liter/tempat tidur/hari.

Volume maksimum tersebut, sambung Tika, dimaksudkan agar rumah sakit mempunyai upaya untuk menghemat pemakaian air agar ketersediaannya tetap terjamin tanpa mengorbankan kepentingan pengendalian infeksi.

Tika menambahkan, berdasarkan Permenkes nomor 7 tersebut, RSUD tak bisa berasalan adanya kerusakan, pasalnya untuk menghadapi kondisi kedaruratan penyediaan air kegunaan higiene dan sanitasi, dimana air sumber utama terganggu atau menghadapi kegagalan suplai karena faktor kerusakan, maka rumah sakit harus menyiapkan atau mengantisipasinya dengan berbagai hal.

“Salah satunya menyediakan tangki air dengan volume kapasitas tampung air minimum 3 (tiga) kali dari total kebutuhan air kegunaan higiene dan sanitasi setiap harinya, atau mampu menyediakan air minimum selama 3 (tiga) hari untuk menunjang kegiatan rumah sakit sejak terhentinya suplai air,” paparnya.

“Jadi kan aneh kalo pas ada kerusakan lalu langsung tak ada air dan pasien jadi korban. Sesuai aturan, harusnya kan RSUD juga selalu menginspeksi ketersediaan air, memasang alarm atau sensor apabila kekosongan air, serta bisa mengajukan ke PDAM untuk memberikan prioritas pengiriman tangki air. Jadi, dari kejadian kemarin, RSUD Cianjur harus bertanggung jawab dan harus dievaluasi,” sambungnya.

Sementara itu, saat hendak mengonfirmasi langsung, namun ternyata Direktur Utama RSUD Sayang Cianjur, Ratu Tri Yulia Herawati tengah tidak berada di tempat karena cuti sejak Sabtu (28/12/2019) lalu.

Akhirnya, wartawan bertemu dengan Wakil Direktur Pelayanan RSUD Cianjur, Neneng Efa Fatimah yang ditemani sejumlah stafnya. Awalnya, mereka membantah jika tak pernah terjadi kekosongan air.

Namun setelah wartawan menyampaikan informasi pengakuan dari Tika Latifah, Efa akhirnya mengakui bahwa terjadi kerusakan. Bahkan saat mengetahui ada kerusakan, pihaknya langsung menghubungi PDAM Cianjur di hari libur, serta dikatakannya pihaknya sempat ‘perang’ dengan pihak PDAM karena tak bisa mengirim air.

“Karena ada kerusakan, kemaren-kemaren itu kita selalu full dari PDAM. Hari Minggu itu kita sampai perang dengan PDAM karena tidak mau mengirim. Permasalahannya debit airnya yang kurang,” terangnya.

Namun saat dipastikan lagi, pernyataan Efa sedikit berubah. Menurutnya, dikarenakan ada kerusakan atau ada alat yang tiba-tiba berhenti, akhirnya dalam beberapa jam pihaknya langsung menghubungi PDAM.

“Akhirnya Alhamdulillah PDAM memberikan suplai walaupun di hari libur. Kita juga langsung meminta maaf kepada pasien karena tidak ada air. Ini kan teknis situasional. Mana mau kita seperti itu, itu kan sudah jadi kewajiban kita memberikan pelayanan. Kita kan punya tujuh sumur, jadi PDAM tak bisa memenuhi semuanya, karena berbenturan dengan kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Efa mengatakan, sebelumnya pihaknya menginginkan memiliki saluran tersendiri, namun ternyata harus membangun saluran dari sumber air Cirumput dengan biaya Rp3 M. Karena biayanya besar, sambung Efa, akhirnya memilih mengaktifkan sumur artesis.(gie/jam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Timeline