BERITACIANJUR.COM – Nur Siti Nuriah (32), wisatawan yang mengaku menjadi korban kekerasan saat diadang warga lokal Kampung/Desa Melati, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, akhirnya buka suara.
Ia menyebutkan, kedua anaknya mengalami trauma usai ditodong senjata tajam (sajam) oleh pelaku. Sekadar informasi, wisatawan yang sebelumnya disebut-sebut warga asal Bekasi tersebut, ternyata aslinya merupakan warga asal Majalengka.
Pasca-tragedi yang dialami keluarganya saat hendak berwisata ke Pantai Selatan Cianjur dua hari lalu, sambung dia, mengakibatkan kondisi mental kedua anaknya terganggu alias trauma berat.
“Iya setelah kejadian kemarin kedua anak saya yang salah satunya masih berusia 7 tahun saat ini trauma. Sampai saat ini mereka tidak mau keluar rumah karena merasa takut,” ujar Nur saat dikonfirmasi beritacianjur.com, Senin (29/9/2025).
Menurutnya, penodongan sajam jenis celurit yang dilakukan pelaku yang mengaku sebagai warga lokal tersebut menjadi pemicu utama kedua anaknya mengalami trauma berat.
“Waktu kami dicegat, di dalam mobil itu ada kedua anak saya, nah waktu pelaku menodongkan sajam itu anak saya nangis ketakutan, makanya sampai saat ini mereka trauma,” jelasnya.
Menurutnya, kronologis awal tragedi tersebut saat mobil yang digunakan keluarganya itu melintas ke wilayah Kecamatan Naringgul, dengan kondisi jalan sempit.
Lalu, lanjut Nur, di tengah perjalanan tiba-tiba kendaraannya nyaris berpepetan atau bersenggolan dengan sejumlah pemuda yang menunggangi sepeda motor, hingga keributan pun terjadi.
“Waktu itu memang jalanannya agak sempit, jadi mungkin kendaraan kami dengan mereka itu hampir bersenggolan, dan mereka itu tiba-tiba menuduh kami menyerempet,” ungkapnya.
Sampai akhirnya, para pemuda itu mengejar kendaraannya hingga mengadang sebanyak tiga kali di jalur berbeda. Puncaknya, kondisi memanas saat pemuda itu melakukan pemukulan hingga penodongan sajam.
“Di video pertama itu kan lokasi awalnya, nah di situ suami saya yang mengendarai mobil sempat dipukul dibagian dada, lalu di lokasi yang berbeda mereka mengadang kembali hingga menodongkan sajam sampai anak-anak saya panik,” paparnya.
Nur menuturkan, permasalahan antara keluarganya dengan sejumlah pemuda itu akhirnya ditangani oleh Polsek Naringgul untuk dilakukan mediasi. Namun, menurut dia, karena sudah ada tindakan kekerasan dan ancaman, keluarganya tetap memilih melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian.
“Mengingat anak-anak saya saat ini trauma dan mereka sempat melakukan kekerasan, jadi kami akan proses hukum kejadian ini. Kami akan laporkan ke Polres Cianjur,” tuturnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Cianjur, Kompol Nova Bhayangkara, mengatakan adanya dugaan aksi penodongan sajam itu terjadi bermula saat adanya aksi adu cekcok antara korban dengan pelaku.
“Jadi ada rangkaian kejadiannya. Awalnya cekcok terus si sopir mengeluarkan kunci setir, dan pelaku memukul handphone korban, nah baru lah di situ ada temannya yang lagi ngarit, terus dipinjam aritnya oleh pelaku,” katanya.
Setelah kejadian itu, kini pihak korban sudah melaporkan peristiwa itu kepada kepolisian dan pihaknya sudah melakukan proses penyelidikan lebih lanjut terkait kasus tersebut.
“Korban sudah membuat laporan resmi dan sudah kami terima, kami akan selidiki lebih lanjut kasus ini,” ucpanya.
Ia menambahkan, saat ini pihaknya sudah mengamankan dua orang yakni Y dan S yang merupakan pelaku pengadangan.
“Saat ini kedua pelaku terutama yang ada kaitannya dengan penggunaan sajam sudah diamankan di Polres Cianjur,” pungkasnya.(gil)










