BERITACIANJUR.COM – Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat AKBP Singgih Hermawan menyebut Kabupaten Cianjur masuk tiga besar daerah pengirim pekerja migran non-prosedural di Jawa Barat.
Hal itu disampaikannya saat ditemui di Pendopo Cianjur pada Senin (13/7/2026), saat menangani kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Cianjur, Ai Juariah (48), yang sebelumnya bekerja di Libya Timur dan sempat terkendala pulang.
“Kami dari KP2MI, atas perintah Pak Menteri, terus berkolaborasi erat dengan teman-teman Kementerian Luar Negeri, termasuk KBRI yang ada di Libya,” ujar Singgih.
Ia menjelaskan, proses pemulangan Ai berjalan lancar setelah KBRI berhasil berkomunikasi dengan pihak agensi di Libya.
“Pemulangan tidak ada kendala. Kemarin setelah KBRI bisa berkomunikasi dengan agensi di sana, korban bisa langsung dipulangkan. Alhamdulillah KBRI benar-benar hadir, negara hadir di tengah-tengah masyarakat. Kita tahu saat ini sedang ada penyesuaian anggaran, tetapi Alhamdulillah beliau (Ai) masih bisa dipulangkan,” katanya.
Singgih mengatakan kasus yang dialami Ai Juariah menjadi gambaran masih tingginya angka pekerja migran non-prosedural yang berasal dari Jawa Barat, termasuk dari Kabupaten Cianjur.
“Tentunya kasus seperti ini masih banyak, tidak hanya dari Jawa Barat, dari tempat lain juga ada. Tapi kami fokus pada wilayah kita di Jawa Barat. Kalau untuk rincian kasusnya mungkin tidak kami perinci, tapi yang jelas Cianjur ini termasuk lumbung pengiriman pekerja yang non-prosedural. Cianjur ini termasuk tiga besar setelah Indramayu dan Cirebon,” ungkapnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada KBRI, pemerintah daerah, dan kepolisian yang turut membantu proses pemulangan Ai Juariah hingga kembali ke kampung halamannya.
“Kebetulan Ibu Ai Juariah ini bekerjanya di Libya Timur. Kami sangat berterima kasih kepada teman-teman KBRI dan tentunya seluruh stakeholder, pemerintah daerah serta Polri yang telah mendukung kami untuk bisa memulangkan beliau,” tambahnya.
Untuk mencegah kasus serupa, BP3MI Jawa Barat akan memperkuat langkah pencegahan melalui sosialisasi dan pemetaan di tingkat desa.
“Harapan besar kami dengan kolaborasi yang ada, kami akan melakukan langkah-langkah proaktif maupun penyuluhan terhadap warga kita di Jawa Barat, khususnya di Cianjur. Kami akan turun ke desa-desa, karena memang hulunya ada di desa,” tegasnya.
Menurutnya, upaya tersebut akan melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, dinas terkait hingga pemerintah desa untuk mendeteksi warga yang berpotensi diberangkatkan secara non-prosedural ke luar negeri.
“Kami berharap dengan kolaborasi antara KBRI, Pak Bupati, Pak Kapolres, dan dinas terkait yang kemarin kami juga sudah bertemu. Semoga ketika pihak desa ini benar-benar bisa kita ajak berkolaborasi, kita dapat memetakan warga kita yang tergiur atau mendeteksi adanya calon-calon yang berpotensi diberangkatkan secara non-prosedural ke luar negeri,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Cianjur, Ai Juariah (48) yang sempat viral meminta pertolongan ingin pulang ke Tanah Air dalam kondisi bersimbah darah di Libya, akhirnya tiba di Cianjur pada Minggu (12/7/2026) malam.
Saat ditemui di Pendopo Cianjur, Senin (13/7/2026), Pekerja Migran Indonesia asal Kampung Babakan Turuy, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang tersebut mengaku berangkat ke Libya pada 2025 melalui jalur nonprosedural karena ingin melunasi utang biaya pernikahan anak pertamanya.(zal)










